DUKUNG ULMWP, PULUHAN ANGGOTA KNPB DITANGKAP

Jayapura, ENS,-Sedikitnya 2000 orang massa demonstran dari berbagai elemen perlawanan rakyat Papua Barat yang dikoordinir oleh Komnite Nasional Papua Barat (KNPB) hari ini, Rabu (13/4) sekitar pukul 09.00 WP, melakukan aksi demonstrasi damai secara serentak pada beberapa kota di Papua, guna mendukung upaya United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) agar diterima sebagai anggota penuh di dalam forum Melanesian Spearhead Group (MSG).

Berdasarkan keterangan yang diperoleh ELSHAM Papua dari Victor Yeimo (Ketua KNPB) sehari sebelumnya, dijelaskan bahwa aksi demonstrasi akan dilakukan pada beberapa wilayah di Tanah Papua, yaitu Yahukimo, Fakfak, Sorong, Manokwari, Merauke dan Jayapura. Berikut ini beberapa informasi dan laporan monitoring yang diterima oleh relawan ELSHAM.

Yahukimo
Dari Yahukimo dilaporkan bahwa 5 orang ditangkap pada hari Selasa (12/4) usai membagikan selebaran aksi damai pada tanggal 13 April 2016. Kelima orang yang ditangkap oleh polisi adalah Yupi Sobolim (23 tahun), Unyil Kobak (24), Erson Suhun, Natu Dapla dan seorang yang belum diketahui namanya. Dalam insiden penangkapan itu, dua orang anak yakni Yosua Sobolim (8 tahun) dan Anderson Suhun (12 tahun) sempat ditangkap oleh polisi namun akhirnya dilepas setelah kelima orang yang ditangkap mengkau bahwa kedua anak tersebut tidak terlibat dalam pembagian selebaran. Dalam insiden penangkapan, polisi juga menyita beberapa barang milik korban seperti 7 unit sepeda motor, 1 unit sepeda dan uang tunai sebesar 3 juta rupiah.

Kaimana
Sementara itu, dari Kaimana, Papua Barat, dilaporkan bahwa pada tanggal 12 April 2016, sekitar pukul 12.00 waktu setempat, aparat kepolisian membubarkan rapat persiapan aksi demonstrasi damai pada 13 April 2016, yang dihadiri sekitar 50 orang. Dalam aksi pembubaran di Sekretariat KNPB yang beralamat di Bantemi, aparat kemudian menangkap dan menahan 15 orang anggota KNPB, yaitu: Yohanes Furay, Lilian Tapnesa, Ania Kurita, Simon Egana, Melianus Siwari, Aser Kubewa, Agus Surbay, Elon Aribau, Stevanus Esuru, Yusuf Surubay, Sepi Surubay, Melianus Surubay, Alfian Tanggafora, Melianus Siwari, Fata Watora. Selain itu aparat juga menyita sejumlah barang seperti 9 unit telepon genggam, 2 unit printer, 5 lembar bendera KNPB, 4 unit sepeda motor, 2 bilah parang dapur, 1 unit mesin pemotong rumput dan 2 buah Tifa.

Merauke
Selain itu, dari Merauke dilaporkan bahwa aparat kepolisian tetempat yang dipimpin oleh Kabag Ops. Kompol Marten Kuagow bersama sekitar 100 anggota polisi bersenjata lengkap, mendatangi Sekretariat KNPB Wilayah Ha-Anim dan Kantor PRD Wilayah Merauke dengan menggunakan 2 unit mobil dalmas, 1 unit mobil Kijang dan 1 unit buah mobil pickup. Dalam aksi penggerebekan, polisi menangkap 13 orang, yaitu: Pangkresia Yeem, Petrus Katem, Idelfonsius Katop, Yohakim Gebze, Gento Emerikus Dop, Charles Sraun, Emilianus Nemop, Rikardo Pisakai, Oktovianus Warip, Petrus P. Koweng, Lukas Arawok, Simon Taulemi dan Paustinus K. Metemko. Polisi juga menyita beberapa barang seperti: 4 unit sepeda motor, 1 unit external hard disk, 2 unit Toa (loudspeaker), 1 buah kotak sumbangan, 1 buah contoh kotak simulasi referendum, 1 unit telepon genggam, 1 buah papan tulis, dan beberapa baliho yang tidak terpakai.

Jayapura
Sedangkan dari Jayapura dilaporkan bahwa aksi demonstrasi dimulai pada pukul 09.15 waktu setempat. Berdasarkan selebaran yang diedarkan oleh KNPB, aksi demonstrasi akan dilakukan pada lima lokasi berbeda, yaitu simpang jalan Pos VII Sentani, Terminal Expo Waena, Perumnas III Waena, halaman Ruko Merpati Abepura, dan Taman Imbi Jayapura. “Rencana aksi hari ini, semua warga papua yang tergabung dalam aksi KNPB, mau long march ke kantor DPRP Papua tapi dilarang oleh Polisi, jadi kami bertahan di perumnas 3 Waena. Sementara teman-teman yang ada di Taman Imbi, Sentani Lingkaran Abepura, dihadang oleh Polisi. Komitmen KNPB adalah, mau tembak kami, mau tangkap kami, mau intimidasi kami, mau teror kami, silahkan, tapi kami tetap berjuang sampai Papua Merdeka dan Indonesia keluar dari Tanah Papua,” tegas Viktor. F. Yeimo kepada ELSHAM Papua.

Berdasarkan pantauan ELSHAM Papua, sejak pukul 07.00 waktu setempat, kepolisian dari Mapolres Kota Jayapura dan Mapolda Papua telah mengerahkan kekuatan sekitar 500 personil bersenjata lengkap dan peralatan seperti 5 unit mobil DALMAS, 2 unit mobil Minivan, 2 unit mobil Tahanan, 2 unit mobil Patroli, 1 unit kendaraan Barakcuda.

Aksi long march yang dilakukan oleh kelompok demonstran dari Terminal Expo Waena ke arah Abepura, dibendung oleh aparat polisi di simpang jalan SPG Waena. Sempat terjadi ketegangan antara massa dan aparat kepolisian. Massa bersih keras untuk menunggu rekan-rekannya dari arah Perumnas III untuk bergabung bersama dan melanjutkan long march ke kantor DPRD Papua. Setelah negosiasi selama 30 menit, aparat kemudian mempersilahkan massa untuk melakukan long march dan bergabung bersama rekan-rekan mereka di Perumnas III Waena. Aksi ini sempat menimbulkan kemacetan lalu lintas di ruas jalan utama Abepura – Sentani. Aparat polisi juga menyita kamera dari setiap orang yang mengambil gambar atau video dari aksi yang dilakukan.

Sementara massa yang melakukan aksi di gerbang Kampus Uncen Waena, melakukan orasi di samping gedung Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Cenderawasih. Massa dari berbagai elemen perlawanan rakyat Papua Barat secara bergantian melakukan orasi. Eneko Pahabol, salah seorang penjaga gawang Persipura, menyempatkan diri untuk berorasi dan menyampaikan aspirasinya tentang praktek diskriminasi yang kerap dialami oleh atlet Papua.

Setelah kedua kelompok massa bergabung di putaran taksi Perumnas III Waena, jumlah massa semakin banyak dan diperkirakan mencapai 1000 orang. Orasi juga dilakukan oleh perwakilan dari KNPB, West Papua National Authority, GEMPAR dan GARDA Papua. Sekitar pukul 15.00 waktu setempat, Victor Yeimo membacakan pernyataan sikap dan sekaligus mengakhiri seluruh rangkaian aksi demonstrasi damai. Sebelum massa meninggalkan lokasi, Victor Yeimo kembali menyampaikan bahwa akan melakukan aksi serupa pada tanggal 2 Mei 2016 yang akan datang. ELSHAM Papua ©2016

Facebook Comments
About Admin 32 Articles
Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) di Papua lahir dari perenungan panjang terhadap pergumulan orang Papua akan situasi politik dan hukum yang bersifat represif. Kenyataan bahwa pendekatan keamanan dan berbagai bentuk kekerasan secara sistematis telah menciptakan rasa takut (traumatis) dikalangan rakyat Papua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*