Penangkapan Massal Warnai Perayaan Hardiknas Di Papua

IMG_0053Jayapura – EP,- Sumber resmi Komite Nasional Papua Barat (KNPB) menyebutkan bahwa sejak 25 April – 2 Mei 2016, sedikitnya 1790 orang telah ditangkap oleh aparat keamanan Republik Indonesia. Penangkapan ini terkait dengan aksi demonstrasi damai dalam rangka mendukung tawaran Serikat Gerakan Pembebasan untuk Papua Barat atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) agar diterima menjadi anggota penuh di dalam forum Melanesian Spearhead Group (MSG). Selain itu, aksi demonstasi ini juga dilakukan sebagai bentuk dukungan bagi Pelaksanaan Pertemuan International Parlementarians for West Papua (IPWP), serta bentuk penolakan terhadap Aneksasi wilayah Papua oleh Republik Indonesia pada 3 Mei 1963 silam. Aksi ini dilakukan bertepatan dengan perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Republik Indonesia yang jatuh pada tanggal 2 Mei setiap tahunnya.

Berikut hasil pemantauan yang dilakukan oleh ELSHAM Papua terhadap aksi Demonstrasi Damai yang dikoordinir oleh KNPB.

Kota Jayapura

Sejak dini hari 1 Mei 2016, pukul 01.00 WIT aparat Kepolisian Sektor Kota (Polsekta) Abepura telah melakukan patroli di seputaran Kotaraja, Tanah Hitam, Padangbulan, Waena, hingga perbatasan Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.

Sejak pukul 07.00, sejumlah personil dari satuan Pengendali Massa (DALMAS) Kepolisian Resort Kota (Polresta) Jayapura, Detazemen A Brigrade Mobil (Brimob) Jayapura, beserta sejumlah personil polisi dari Kepolisian Daerah (Polda) Papua dan Polsekta Abepura, telah disiagakan di Perumnas III Waena, Terminal Expo Waena, Kampus Universitas Cenderawasih (Uncen) Abepura, dan Lingkaran Abepura. Jumlah personil yang bertugas diperkirakan mencapai 800 orang personil polisi, dengan dibantu oleh sekitar satu Kompi personil Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Komando Resort Militer 172/PVY Jayapura. Aparat yang berjaga menggunakan senjata lengkap dan didukung oleh sejumlah kendaraan tempur seperti Tank Barracuda, Water Canon, dan jenis kendaraan lain berupa mobil tahanan, ambulance milik Rumah Sakit Bhayangkara, truk DALMAS, dan beberapa unit kendaraan roda dua milik TNI dan Polisi yang sering digunakan untuk melakukan patroli. Aparat Polisi dan TNI juga didukung oleh personil intelijen dari berberagai kesatuan, yang membaur dengan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan. Selama pelaksanaan aksi, aktivitas masyarakat di Pasar Yotefa, Rumah Sakit Umum Daerah Abepura, Kampus Uncen Abepura, Terimnal Expo Waena dan pusat-pusat kagiatan publik lainnya berjalan normal.

Aksi Demo Damai secara serentak di Lingkaran Abepura, Gapura Kampus Uncen Abepura dan Gapura Kampus Uncen Waena pada pukul 08.00 WIT. Aksi Demonstrasi ini melibatkan elemen Gerakan Pembebasan Papua dari KNPB; Gerakan Mahasiswa Pemuda dan Rakyat (GEMPAR) Papua; Gerakan Rakyat Demokratik Papua (GARDA-P); Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uncen, BEM Universitas Sains dan Teknologi Jayapura, BEM Universitas Kristen Ottow dan Geisler dan BEM Sekolah Tinggi Umel Mandiri Jayapura.

Sekitar pukul 08.15 WIT, ketika massa aksi yang sedang melakukan orasi politik di depan Gapura Kampus Uncen Waena, mereka dipaksa berhenti oleh aparat polisi. Sambil ditodong oleh aparat kepolisian, massa aksi diperintahkan naik ke mobil DALMAS, lalu dibawa ke markas Polresta Jayapura. Aparat menggunakan 5 truk polisi untuk mengangkut massa aksi, yang jumlahnya diperkirakan sekitar 200-an orang. Massa dibawa melalui jalan alternatif yang menghubungkan Perumnas III Waena dan pusat Kota Jayapura. Massa aksi kemudian diperintahkan duduk di halaman parkir Markas Polresta Jayapura, di bawah sengatan terik sinar Matahari.

Sementara itu, sekitar pukul 08.30 WIT, massa aksi lainya yang berjumlah sekitar 80 orang melakukan orasi politik di Lingkaran Abepura. Sekitar 30 menit berselang, mereka kemudian ditangkap dan dipaksa naik ke dalam mobil DALMAS, dan dibawa ke Markas Brimob di Kotaraja. Mereka diperintahkan duduk di tengah lapangan sepakbola yang berada di dalam kompleks markas Brimob, di bawah sengatan terik sinar Matahari.

Sekitar pukul 09.15 WIT, massa aksi yang terdiri dari pelajar, mahasiswa dan pemuda kembali berkumpul di depan Gapura Kampus Uncen Waena untuk melakukan aksi yang sama. Mereka melakukan orasi politik sambil meneriakan yel-yel “Papua Yes, Referendum Yes, Indonesia No..!” Jumlah massa terus bertambah hingga mencapai 200-an orang. Massa yang dikoordinir oleh KNPB lalu memutuskan untuk melakukan longmarch menuju ke Kantor Majelis Rakyat Papua, yang berjarak sekitar 9 kilometer. Selama perjalanan, massa lain ikut bergabung, baik massa yang berkumpul di depan Jalan Proyek Perumnas II yang berjumlah sekitar 50 orang, dan juga massa dari arah perumnas I yang berjumlah sekitar 50 orang. Ketika massa aksi tiba di traffic light simpang jalan SPG Perumnas I Waena, mereka dihadang oleh aparat kepolisian dari satuan Brimob. Massa dipaksa untuk naik ke mobil DALMAS lalu dibawa ke markas Brimob di Kotaraja, dan diperintahkan duduk di tengah lapangan sepakbola bersama dengan massa aksi lainnya yang telah ditangkap sebelumnya.

Kelompok massa lainnya melakukan aksi di depan Gapura Kampus Uncen Abepura pada pukul 08.30 WIT. Sambil bernyanyi dengan menggunakan alat musik tradisional, mereka juga melakukan orasi politik. Massa juga meneriakan yel-yel “Papua Yes, MSG Yes, Referendum Yes, ILWP Yes, Indonesia No…!” Sekitar satu setengah jam melakukan aksi, massa yang berjumlah sekitar 100 orang kemudian dipaksa untuk naik ke dalam truk DALMAS lalu di bawa ke Markas Brimob Kotaraja. Kelompok massa ini kemudian diperintahkan bergabung dan duduk di tengah lapangan sepakbola, bersama dengan massa lainnya yang telah lebih dulu ditangkap.

Selama ditahan di Markas Polresta Jayapura dan Markas Brimob Kotaraja, aparat kelolisian mengambil keterangan dan informasi dari massa aksi. Aparat Polisi juga menutup akses pelayanan publik di Markas Polresta Jayapura sejak pukul 09.00 WIT. Ketika ditanyakan kepada petugas polisi yang berjaga di pintu gerbang Markas Polresta Jayapura, disampaikan bahwa “Hari ini tidak ada pelayanan publik. Kami disini sedang urus masalah besar, jadi Pak Kapolres perintah tutup pintu,” ujar salah seorang anggota polisi.

Berdasarkan keterangan yang diperoleh ELSHAM dari massa yang ditahan, aparat juga melakukan penyiksaan terhadap beberapa anggota massa aksi. Salah seorang korban menyatakan bahwa aparat Brimob memukul mereka dengan Kayu, menendang mereka dengan menggunakan sepatu lars, bahkan meminta mereka untuk menanggalkan baju. Dua orang korban penyiksaan adalah Sampari Warpo Wetipo dan Laskar Sama. Seluruh massa aksi, baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak dibiarkan berjemur di bawah sengatan terik sinar Matahari, selama lebih dari 7 (tujuh) jam.

Sekitar pukul 14.30 WIT, Tim Kuasa Hukum dari ELSHAM Papua, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Papua (DPRP) dan Ketua Sinode Kingmi Papua (Pdt. Dr. Benny Giay) melakukan koordinasi dengan Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Papua guna membebaskan massa aksi yang ditahan. Setelah melakukan pembicaraan yang cukup alot, Kapolda Papua akhirnya menyetujui agar massa aksi yang ditahan segera dibebaskan.

Pukul 15.15 WIT, Tim Kuasa Hukum dari ELSHAM Papua, Anggota DPRP (Laurensius Kedepa), Ketua Sinode Kingmi Papua (Pdt. Dr. Benny Giay) bersama Kapolda Papua datang ke Markas Brimob Papua untuk bertemu dengan massa aksi yang sedang ditahan.

Dalam pertemuan tersebut, Kapolda menyampaikan bahwa “Perjuangan saudara-saudara kami tidak ikut campur, kami disini hanya menegakkan aturan yang ada di negara ini. Kami sebagai pihak keamanan hanya menjalankan tugas dan menegakkan aturan hukum. Satu kali saya akan undang kalian semua dan kita akan bicara dan buktikan bahwa apakah selama ini Polisi melakukan pelanggaran HAM atau tidak. Sebab sekarang ini kami sedang melakukan koordinasi dengan tokoh HAM, tokoh Perempuan dan Komnas HAM Perwakilan Papua untuk selesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Tanah Papua.”

Sedangakan Laurensius Kedepa mewakili DPRP menyampaikan bahwa “Tanggal 29 April, kami dapat surat dari Organisasi yang namanya Komite Nasional Papua Barat, sehingga tanggal 2 (Mei) hari ini sebagian dari anggota DPRP sudah siap di kantor menunggu kedatangan sudara-saudara untuk mendengar aspirasi yang akan disampaikan. Namun kami menerima informasi bahwa saudara-saudara di tahan di Markas Brimob. Jujur kami mau sampaikan kepada Bapak Kapolda bahwa kami anggota DPRP sangat kecewa dengan tindakan aparat penegak hukum hari ini. Disini (Markas Brimob), bukan tempat untuk menyampaikan aspirasi. Mereka harus ada di DPRP untuk menyampaikan aspirasinya, karena disanalah rumah rakyat dan kami sebagai wakil rakyat siap mendengar aspirasi mereka.”

Sementara Pdt. Dr. Benny Giay menyampaikan “Saudara-saudara ada di halaman Markas Brimob karena ada masalah dan ada akibat dari masa lalu kita. Kalau pemerintah Indonesia bisa membuka ruang dialog dengan masyarakat Aceh, kenapa Papua tidak bisa? Untuk itu, agar jangan lagi terjadi seperti hari ini (tindakan penangkapan), pemerintah harus buka ruang dialog dengan masyarakat Papua.”

IMG_0084

Sekitar pukul 18.30 WIT, Kapolda meminta Pdt. Dr. Benny Giay agar memimpin doa, sebelum akhirnya memerintahkan anak buahnya agar membebaskan massa aksi yang ditahan. Massa aksi lalu diantar pulang ke Ekspo Waena dan Perumnas III Waena dengan kendaraan milik polisi.

 

Kabupaten Jayapura

Sejak 1 Mei 2016 pukul 01.00 WIT, aparat polisi sekitar 30 orang menggunakan 2 unit truk milik Kepolisian Resort Jayapura, telah berjaga di lapangan sepakbola Sentani Kota yang berdekatan dengan makam Theys H. Eluay. Sekitar pukul 07.30 WIT, terdapat pajangan spanduk di depan makam Theys H. Eluay yang bertuliskan “Masyarakat Sentani Tolak Referendum”.

Sumber ELSHAM Papua di Sentani melaporkan bahwa sejak pukul 08.00 WIT, sekelompok masyarakat berkumpul di lapangan sepakbola Sentani sambil menancapkan bendera Merah Putih. Mereka melakukan orasi yang pada intinya menolak kehadiran KNPB dan ULMWP, karena dianggap telah melakukan penyesatan dan pembohongan terhadap masyarakat Papua. “Kami menolak KNPB dan ULMWP karena selama ini dorang selalu bikin masalah di Tanah Papua,” ujar salah seorang anggota kelompok. Setelah berorasi selama 30 menit, kelompok ini kemudian melakukan longmarch menuju ke Kantor Bupati Jayapura yang berjarak sekitar 5 kilometer.

Ketika sampai di halaman kantor Bupati Jayapura, Ayatanoy Eluay melakukan orasi dan menyampaikan bahwa “Sebagai masyarakat adat Sentani, kita semua harus saling menghormati dan menghargai tatanan masyarakat adat Papua. Selama ini ada suku-suku tertentu yang selalu bikin situasi tidak aman di Papua, khususnya di Sentani. Kami harap supaya pemerintah dan aparat keamanan bisa atasi masalah ini,” tegas Eluay.

Sementara itu Sarlen LS Dobondoy selaku Koordinator aksi ikut menegaskan bahwa “Masyarakat Adat Sentani tidak mau terlibat dalam aksi-aksi yang dibuat oleh kelompok liar macam KNPB. Mereka selama ini sudah bikin keresahan dalam masyarakat, padahal kami ingin hidup tenang dan menikmati hasil pembangunan. Saya himbau kepada KNPB agar berhenti menipu masyarakat Papua dengan janji-janji kosong yang tidak pernah terbukti. Masalah Papua sudah selesai, jadi sekarang tugas kita adalah bangun Papua.”
IMG_0041Mengakhiri aksi mereka, dibacakan pernyataan sikap dihadapan Bupati Jayapura serta jajaran pimpinan Kabuaten Jayapura. Aksi kemudian ditutup dengan pembakaran bendera KNPB dan bendera Bintang Kejora. Dari pemantauan ELSHAM, jumlah massa aksi sekitar 50 orang.

Kabupaten Keerom

Koordinator Pos Kontak ELSHAM Papua di Keerom melaporkan bahwa pada tanggal 2 Mei 2016, tidak ada aksi demonstrasi Damai yang dilakukan di Kabupaten Keerom. Namun demikian, aparat keamanan baik TNI maupun Polisi melakukan aksi razia (sweeping) terhadap pengguna kendaraan bermotor di dua tempat berbeda. Kegiatan razia dilakukan sejak tanggal 30 April – 2 Mei 2016 yang berlokasi di Arso II dan pertigaan Arso VII. Beberapa Papua mengeluhkan aksi razia ini, karena pemeriksaan lebih cenderung dilakukan terhadap warga asli Papua, sementara warga migran tidak diperiksa secara ketat.

Kabupaten Fakfak

Koordinator Pos Kontak ELSHAM Papua di Fakfak melaporkan bahwa aksi Demonstrasi Damai di Kota Fakfak rencananya akan digelar pada 3 Mei 2016. Namun aparat gabungan TNI dan Polisi telah melakukan penggerebekan di Sekretariat ULMWP Fakfak pada 2 Mei 2016, pukul 17.30 WIT. Aparat keamanan kemudian menangkap dan menahan 40 orang, diantaranya 19 anak-anak dan 1 perempuan di Mapolres Fakfak. Sekitar pukul 20.00 WIT massa aksi lainnya yang datang dari berbagai tempat di Kota Fakfak untuk berkumpul di sekretariat ULMWP Fakfak, kembali ditangkap dan digiring ke markas Polres Fakfak. Beberapa orang yang diketahui telah ditangkap adalah: Abnel Hegemur, Siswanto Tigtigweira, Ambram Rametwa, Modes Komber, Danny Hegemur, Baron Tanggareri, Yakobus Hindom, Samuel Komber, Simon Hindom, Lince Iba, Yonas Hindom, Pasko Hindom, Hiriet Hegemur, Aron Hegemur, Yusup Hegemur dan War Hegemur. Sejumlah alat tulis kantor (ATK) dan 2 buah spanduk turut disita oleh aparat keamanan. Sedangkan pada tanggal 3 Mei 2016, aparat kembali menangkap dan menahan 58 orang, termasuk 4 orang perempuan. Para tahanan kemudian dibebaskan secara bertahap, diawali dengan pembebasan terhadap 19 orang anak-anak bersama 18 orang dewasa pada pukul 12.00 WIT, lalu pada pukul 18.00 WIT, polisi membebaskan tahanan lainnya bersama dengan 3 orang penanggungjawab aksi yaitu Apnel Hegemur (41), Modestus Komber (28) dan Daniel Hegemur (31).

Pada 2 Mei 2016 sekitar pukul 08.00 WIT, Morten Kabes, seorang stringer (pembantu jurnalis) yang hendak melakukan pepliputan di Markas Polres Fakfak bersama dengan wartawan senior Surahman dari MNC TV sempat dipukul oleh Bripka Erwin. Tindakan pemukulan ini disaksikan oleh Wakil Kepala Polres Fakfak dan Kepala Bagian Operasi Polres Fakfak. Tindakan pemukulan dilakukan dengan alasan karena Morten Kabes tidak melepas topi yang dikenakan ketika berada di halaman Polres Fakfak.
Demo 020516
Berdasarkan informasi yang diterima dari Sekretaris Umum KNPB, ia meyebutkan bahwa telah terjadi penangkapan di sejumlah tempat, seperti di Merauke, Wamena, Sorong dan Makassar. Sebelumnya pada 29 April 2016, telah terjadi penangkapan di sekitar Gereja Katedral Dok V Jayapura terhadap 38 orang anggota KNPB yang membagikan selebaran rencana aksi demonstrasi Damai pada 2 Mei 2016. ELSHAM Papua ©2016

Facebook Comments
About Admin 32 Articles

Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) di Papua lahir dari perenungan panjang terhadap pergumulan orang Papua akan situasi politik dan hukum yang bersifat represif. Kenyataan bahwa pendekatan keamanan dan berbagai bentuk kekerasan secara sistematis telah menciptakan rasa takut (traumatis) dikalangan rakyat Papua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*