Aparat Gabungan Tni/Polri Lokalisir Demo KNPB

IMG_0053Jayapura, EP – Komite Nasional Papua Barat (KNPB) melakukan aksi demonstrasi damai pada 31 Mei 2016, yang di mulai pukul 09.00 WIT (Waktu Indonesia Timur), demonstrasi ini dipusatkan di putaran taksi, Perumnas 3 Waena, Kota Jayapura, sedikitnya 2000 massa rakyat Papua bergabung dalam demonstrasi ini. Dalam selebaran yang diedarkan oleh KNPB, disebutkan bahwa aksi ini dilakukan untuk mendukung United Liberation Movement of West Papua (ULMWP) agar diterima menjadi anggota penuh Melanesian Spearhead Group (MSG). Di selebaran yang sama, KNPB memberi himbauwan agar massa rakyat berkumpul di putaran taksi Perumnas 3, Terminal Expo Waena, simpang Jalan Pos 7 Sentani, depan Kantor Pos Abepura dan Halte Yapis Dok 5, selanjutnya akan melakukan long march bersama-sama menuju Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP).

ELSHAM Papua yang memantau situasi di Jayapura (30/05) mencatat sejak pukul 01.30 dini hari (31/05), kendaraan Water Canon milik Detazemen A Bragade Mobil (Brimob) Jayapura melakukan pengisian air di Hydrant Water, di Depan Markas Komando Rayon Militer (Koramil) Abepura. Sumber ELSHAM di Sentani mengatakan bahwa sejak pukul 02.00 dini hari, sejumlah personil dari Batalyon Infanteri 751 Raider  telah memasang bendera Merah Putih di sepanjang pembatas ruas jalan dari Kampung Harapan Sentani hingga Kantor Bupati Kabupaten Jayapura yang berjarak sekitar 7 km. Sejumlah personil polisi juga telah disiagakan di Markas Kepolisian Resort Kota (Mapolresta) Jayapura sejak pukul 02.30 dini hari WIT.

Sejak pukul 05.30 WIT, sejumlah anggota Brimob bersenjata lengkap dengan menggunakan dua unit kendaraan roda empat, mendatangi Sekretariat KNPB di Perumnas 3 Waena, dan menangkap sedikitnya 50 orang anggota KNPB serta menyita sejumlah Poster dan Spanduk. Kemudian pukul 07.15 WIT, dilakukan apel bagi aparat Gabungan TNI/Polri yang berjumlah sekitar 600 personil, dengan didukung persenjataan lengkap, 4 unit truk, 4 unit mobil tahanan, 1 unit kendaraan water canon, 6 unit mobil patroli, 1 unit kendaraan Barracuda dan 5 unit sepeda motor patroli milik Polresta Jayapura. Aparat Gabungan terdiri dari personil Batalyon Infanteri 751 Raider, Detazemen A Brimob Papua, Satuan Sabhara, anggota Samapta dan Satuan Pengendali Massa (Dalmas) Polda Papua.

IMG_0038Dari Sentani dilaporkan bahwa sejak pukul 06.15 telah terjadi penangkapan terhadap warga sipil yang hendak melakukan aksi bersama di Jayapura. Sekitar pukul 06.15 WIT, aparat polisi dari Kepolisian Resort (Polres) Jayapura yang menggunakan dua unit mobil patroli menangkap sedikitnya 15 orang yang berkumpul di Lampu Merah Kemiri, Sentani. Massa yang berada di dalam mobil polisi meneriakan yel-yel “Papua Merdeka…., Hidup Theys Eluay….” Sekitar pukul 07.30 WIT, aparat polisi kembali menangkap sekitar 170 orang yang berkumpul di tempat yang sama. Aparat Polres Jayapura kembali menangkap 33 orang di simpang Jalan Sosial pukul 08.30 WIT, dan diikuti dengan penangkapan terhadap 100 orang di simpang Jalan Pos 7 Sentani.

Massa yang berjumlah sekitar 200 orang, pukul 09.30 WIT, berkumpul dan melakukan orasi di Lingkaran Abepura, tepat di depan jalan Biak yang berada di jantung Kota Abepura. Aparat Gabungan TNI/Polri yang berjumlah sekitar 100 personil dan bersenjata lengkap, melakukan penjagaan ketat sambil terus mengawasi massa aksi. Sekitar pukul 12.00 waktu setempat, massa aksi kemudian dipersilahkan untuk melakukan long march dari Abepura untuk bergabung bersama massa aksi lainnya yang berada di Putaran Taksi Perumnas 3 Waena, yang berjarak sekitar 8 km.

Koordinator Aksi, Mecky Yeimo (32) mengatakan kepada ELSHAM Papua, “Hari ini kami mau demo damai ke Kantor DPRP, tapi sampai jam 12.00, kami tidak diijinkan oleh Kapolresta Jayapura, makanya kami hanya bertahan disini sambil berorasi. Hal terpenting dari demo KNPB hari ini, yang mau kami sampaikan kepada DPRP selaku perwakilan Indonesia di Tanah Papua adalah: (1). Kami mendukung ULMWP menjadi anggota penuh di MSG, (2). Tim pencari Fakta pelanggaran HAM dari PIF dan PBB harus segera ke Papua, (3). Segera dilakukan Referendum untuk menentukan masa depan politik di Tanah Papua, dan (4). Kami menolak Tim Pencari Fakta yang dipimpin oleh Komnas HAM Papua/Jakarta dan Kapolda Papua,” tegasnya.

Kapolresta Jayapura,  Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Jeremias Rontini menjelaskan kepada ELSHAM Papua bahwa pihak Polresta tidak mengijinkan KNPB melakukan aksi di Kantor DPRP. “Saya atas nama Kapolresta Jayapura tidak ijinkan KNPB demo ke Kantor DPRP, karena melanggar Undang-undang. Kalau mau sampaikan tuntutan referendum, bukan di kantor DPRP. Organisasi seperti KNPB adalah organisasi yang melanggar hukum di Indonesia, karena tuntutannya Papua referendum,” tegas Rontini. Sedangkan terkait dengan massa yang ditahan, Rontini menyebutkan bahwa mereka hanya dimintai keterangan lalu diberikan arahan agar tidak mengulangi perbuatan yang sama, setelah itu akan dipulangkan.

Aksi demo KNPB juga dihadiri oleh anggota DPRP, yaitu Ruben Magai (Komisi I), Emus Gwijangge (Komisi I), Mathea Mameyau (Komisi I), Laurens Kadepa (Komisi I) dan Wilhelmus Pigai (Komisi II). Dalam orasi yang disampaikan, Ruben Magai menyebutkan bahwa “Kami (anggota DPRP) hadir disini karena kami dengar waktu lalu (demo KNPB tanggal 2 Mei 2016) ada peserta demo yang ditangkap dan disiksa oleh polisi di Markas Brimob. Jadi hari ini kami datang untuk pastikan bahwa tidak ada yang ditangkap dan disiksa.” Sementara Laurens Kadepa menyampaikan “Kami sudah terima pemberitahuan dari KNPB bahwa mereka akan buat aksi demo ke Kantor DPRP, tapi karena mereka tertahan disini, makanya kami yang datang untuk dengar aspirasi mereka. Pemerintah dan polisi seharusnya tidak membatasi niat orang Papua untuk menyampaikan aspirasi, karena Indonesia adalah negara demokratis. Kalau pemerintah membatasi penyampaian aspirasi, dunia internasional akan pertanyakan penegakan demokrasi di Indonesia.” Setelah berorasi, anggota DPRP yang diwakili oleh Laurens Kadepa kemudian menerima pernyataan sikap dari KNPB.

Aksi demo KNPB di Putraran Taksi Perumnas 3 Waena, diakhiri pada pukul 18.30, dan massa kemudian membubarkan diri dengan tertib.

Sumber resmi KNPB merilis bahwa antara 30 – 31 Mei 2016, aparat kepolisian di Tanah Papua telah menangkap 597 orang terkait dengan aksi demo yang digelar pada 31 Mei 2016, sebagaimana dirinci pada tabel berikut:

Tanggal Kota Jumlah
30 Mei 2016 Yahukimo 3 orang
30 Mei 2016 Wamena 51 orang
31 Mei 2016 Sentani 469 orang
31 Mei 2016 Wamena 61 orang
31 Mei 2016 Manado 7 orang
31 Mei 2016 Gorontalo 6 orang

Demo Tandingan

Koordinator Pos Kontak ELSHAM Papua di Fakfak melaporkan bahwa pada hari yang sama, dilakukan aksi demo menolak KNPB dan ULMWP oleh sedikitnya 50 orang dari komunitas Masyarakat Peduli NKRI di parkiran Plaza Pasar Tumburuni. Aksi ini dikoordinir oleh Arsad Wagab dan Abas Rohrohmana, anggota kelompok Milisi Merah Putih yang didirikan pada tahun 1999 silam. Berdasarkan keterangan yang diperoleh dari warga sekitar, beberapa wanita penghibur yang biasanya bekerja pada kafe-kafe hiburan malam di Kota Fakfak, turut ambil bagian dalam aksi tersebut. Aksi berlangsung selama kurang lebih 3 jam, dan diakhiri dengan pembakaran bendera ‘Bintang Kejora’ dan bendera ‘KNPB’.

Sementara Koordinator Pos Kontak ELSHAM Papua di Keerom melaporkan bahwa pada 30 Mei 2016, terjadi aksi demo oleh sekelompok Pemuda dan Masyarakat yang menentang keberadaan KNPB dan ULMWP. Aksi tersebut dipusatkan di halaman Kantor Bupati Keerom, yang dikoordinir oleh Ketua Dewan Adat Keerom, Herman A.T Yoku. Dalam orasinya, Yoku menyampaikan “Bubarkan KNPB di seluruh wilayah Kabupaten Keerom. KNPB adalah organisasi liar, jadi kami menolak dengan tegas kehadiran KNPB di Kabupaten Keerom,” tegas Yoku. Aksi mereka berlangsung selama kurang lebih 3 jam, dan diakhiri dengan pembakaran bendera ‘Bintang Kejora’ dan bendera ‘KNPB’.

Dalam catatan ELSHAM Papua, aksi-aksi demo yang dimaksukan untuk melakukan penolakan terhadap keberadaan KNPB dan ULMWP juga telah berlangsung sepanjang bulan Mei 2016, seperti yang disusun dalam tabel berikut:

Tanggal Nama Kelompok Aksi Kota Perkiraan Jumlah Peserta
2 Mei 2016 Masyarakat Adat Sentani Sentani 50 orang
17 Mei 2016 Aliansi Masyarakat Merah Putih Indonesia Jakarta 100 orang
25 Mei 2016 Persatuan Perintis Kemerdekaan RI Kota Jayapura 15 orang
26 Mei 2016 Masyarakat Papua dan Persatuan Gereja Kota Jayapura 100 orang
27 Mei 2016 Barisan Merah Putih Pegunungan Tengah Wamena 30 orang
28 Mei 2016 Koalisi Masyarakat Merauke Merah Putih Merauke 20 orang
28 Mei 2016 Masyarakat Kokoda Sorong 50 orang
30 Mei 2016 Masyarakat Adat Keerom Arso 20 orang
31 Mei 2016 Masyarakat Peduli NKRI Fakfak 30 orang
31 Mei 2016 Warga Kota Sorong Sorong 70 orang

Sampai dengan laporan ini dibuat per 1 Juni 2016, telah beredar Seruan Aksi Demo Damai di Kota Jayapura yang dikeluarkan oleh Barisan Rakyat Pembela NKRI (BARA NKRI). Melalui seruan yang dikeluarkan, massa diminta agar berkumpul di Terminal Expo Waena dan Lapangan Trikora Abepura pada pukul 07.30 WIT, selanjutnya akan melakukan arak-arakan menuju kantor DPRP. Massa diminta untuk melengkapi diri dengan ikat kepala Merah Putih serta membawa bendera Merah Putih. Seruan serupa juga disampaikan melalui Spanduk yang dipajang pada Jembatan Penyeberangan di depan Kampus Universitas Cenderawasih Abepura.IMG_0024

Dalam sebuah bocoran “Laporan Kesiapan Rencana Aksi Demo Damai Masyarakat Jayapura Pada Tanggal 2 Juni 2016”, disebutkan bahwa antara tanggal 27 – 31 Mei 2016, kelompok BARA NKRI telah melakukan pertemuan paralel sebanyak 6 kali yaitu di Sentani, Ajendam, Koya, Tanah Hitam, Gajah Putih dan Hamadi. BARA NKRI menyatakan bahwa telah menyebarkan 2000 lembar selebaran dan 12 buah banner himbauan yang akan dipajang di Jayapura (3 buah), Sentani (4 buah), Abepura (4 buah) dan Koya (1 buah). BARA NKRI menargetkan untuk menggalang massa sebanyak 10.000 hingga 15.000 orang. BARA NKRI juga berharap agar Pasar Youtefa, Saga Mall, Mega Supermarket dan toko-toko lainnya ditutup untuk sementara selama aksi berlangsung. Mobilasasi massa direncanakan akan menggunakan truk, angkutan umum dan kendaraan pribadi. ELSHAM Papua ©2016

Facebook Comments
About Admin 32 Articles
Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) di Papua lahir dari perenungan panjang terhadap pergumulan orang Papua akan situasi politik dan hukum yang bersifat represif. Kenyataan bahwa pendekatan keamanan dan berbagai bentuk kekerasan secara sistematis telah menciptakan rasa takut (traumatis) dikalangan rakyat Papua.

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*