Polisi Tembak Michael Merani

Mikael Merani, korban penembakan
Mikael Merani, korban penembakan
Mikael Merani, korban penembakan

Yapen, ENS – Michael Merani (28), namanya termasuk ke dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) oleh Polres Kepulauan Yapen, setelah Rudi Orarei yang ditembak tahun 2013 silam. Kepolisian Mapolda Papua menyebut Michael sebagai Pemimpin Gerakan Papua Merdeka yang menggantikan Rudi Orarei.

Sebelum ditembak, Michael pernah menyampaikan kepada relawan ELSHAM Serui bahwa “Saya mendapat laporan lisan dari Kapolres Yapen bahwa saya punya nama dimasukan dalam DPO, apakah Michael sudah tahu hal ini? Saya juga kaget karena kepala kampung Kontinai sampaikan ke saya bahwa polisi ada cari saya karena saya terlibat dalam gerakan Papua Merdeka. Saya pernah dapat telpon dari orang tak dikenal, dia mengaku polisi, dia bilang saya hati hati karena saya pimpinan Papua Merdeka di Kabupaten Yapen dan polisi akan tembak saya. Ini yang membuat saya takut lalu putuskan untuk lari amankan diri ke hutan. Kalau saya rindu anak dan istri, saya ke rumah, tapi disaat malam. Sebagai seorang suami, saya punya tanggung jawab untuk urus dua anak saya, kerja untuk kelangsungan hidup anak istri. Benar saya kenal Rudi Orarei karena dia itu saudara saya,” tutur Michael saat ditemui di rumahnya di Kampung Kontinai sebelum dia ditembak.

Berikut Kronologis penembakan Michael Merani berdasarkan hasil Investigasi ELSHAM Serui.

Menurut A.M (30), “Sekitar pukul 01.00 WIT, 27 Maret 2017, kami ada duduk cerita di rumah sambil minum kopi, isap rokok, tiba tiba pintu depan bunyi keras, kami kaget karena ada orang yang tendang pintu. Michael lari ke arah rumah bagian depan, saya lari ke belakang rumah. Saya lihat saat Michael lari. Ada banyak orang berdiri pegang senapan laras panjang, pake baju hitam, celanan hitam, muka ditutup dengan kain hitam seperti topeng. Ada satu orang pegang senapan lalu arahkan laras senapan ke muka saya sambil berkata, jangan lari, jangan bergerak, cepat angkat tangan taruh di kepala. Saya jawab, saya ini masyarakat yang tinggal di kampung Kontinai tapi orang itu bilang jangan bergerak, saya takut ditembak mati jadi saya duduk diam saja. Saya lihat Michael lari lewat pintu rumah bagian belakang. Saya dengar ada bunyi tembakan 1 kali. Tembakan berikutnya banyak sekali. Ada satu orang yang tahan saya sambil dia tembak kearah Michael. Saat dia tembak, saat itu saya lari sembunyi di rumah rumah warga sampai di ujung kampung Kontinai saya berdiri. Saya jalan kembali ke arah rumah milik Michael karena saya kasihan dengan Michael punya istri dan dua anak yang ada di rumah. Saat saya kembali ke rumah, ada dua orang yang dapat pukul dengan laras senapan, namanya HS (30) dan FA (28).”

Menurut HS, “Mereka pukul saya dengan senapan di kepala sambil tanya, Michael taruh senapan dimana? Saya jawab tidak tahu, mereka terus pukul saya. Michael punya Mama, DA (40) saat itu ada mandi dalam kamar mandi, mereka buka pintu lalu tarik keluar sambil tanya, Michael taruh senapan dimana? Saya lihat Mama DA hanya duduk sambil menangis.”

Berdasarkan pantauan ELSHAM Serui, masyarakat di kampung Kontinai, kecamatan Angkaisera, Yapen Selatan, usai kejadian penembakan, masyarakat menjadi ketakutan bepergian ke kebun ataupun meramu Sagu. Hingga laporan ini dibuat, masyarakat masih ketakutan ke luar rumah. ELSHAM Papua ©2017

Facebook Comments
About Admin 32 Articles
Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) di Papua lahir dari perenungan panjang terhadap pergumulan orang Papua akan situasi politik dan hukum yang bersifat represif. Kenyataan bahwa pendekatan keamanan dan berbagai bentuk kekerasan secara sistematis telah menciptakan rasa takut (traumatis) dikalangan rakyat Papua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*