Sebagian Masyarakat Fakfak Peringati “1 Mei” Sebagai Hari Integrasi

Ilustrasi; 1 Mei di Fakfak, foto; http://nusantara.rmol.co
Ilustrasi; 1 Mei di Fakfak, foto; http://nusantara.rmol.co
Ilustrasi; 1 Mei di Fakfak, foto; http://nusantara.rmol.co

Fakfak, ENS – Sekelompok warga yang menamakan diri Barisan Pembela Merah Putih, yang dikoordinir oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) mewarnai Kota Fakfak dengan berbagai kegiatan dari konvoi kendaraan hingga lomba kapal/perahu hias bernuansa merah putih (1/03/2017), yang digelar sejak pukul 09.00 WIT dengan tujuan merayakan hari integrasi Irian Barat ke dalam NKRI.

Berdasarkan pemantauan ELSHAM Fakfak, aksi barisan pembela merah putih didahului dengan pawai kendaraan bermotor dari sejumlah pangkalan ojek. Mereka mengelilingi kota Fakfak sambil membawa bendera merah putih. Menurut penuturan seorang peserta pawai, mereka dibayar untuk melakukan aksi tersebut. “Kita dibayar Rp 50.000,-. Lumayan bisa untuk uang rokok dan makan hari ini” kata Suryono yang baru saja memasukan bendera merah putih ke dalam jok motor”.

Iwan (43), seorang warga transmigran mengatakan “ini sebuah proses adu domba, karena mereka sedang mengingatkan orang asli Fakfak tentang perjuangan kemerdekaan Papua yang belum berahir. Harusnya Bapak Kapolres, Dandim dan pemerintah daerah memperingati tanggal 1 Mei dengan kegiatan yang positif yang tidak menimbulkan BOM waktu, seharusnya Slogan Damai yang disuarakan di atas tanah Papua”, ungkapnya.

Umar Boiratan (23) Ketua HMI Cabang Fakfak berorasi didepan masa yang tergabung dalam Barisan Pembela Merah Putih mengatakan “Mari kita hargai perjuangan para pahwalan yang telah berjuang bebaskan Irian Barat dari tangan para penjajah, maka jangan mudah terpengaruh dengan isu-isu yang pada akhirnya merugikan Rakyat Papua seperti yang di mainkan oleh kelompok Komite Nasional Papua Barat dan ULMWP”.

Aksi pawai berlangsung di bawah pengawalan aparat gabungan TNI AD dan Polri yang membawa senjata laras panjang. ELSHAM Papua ©2017

Facebook Comments
About Admin 32 Articles
Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) di Papua lahir dari perenungan panjang terhadap pergumulan orang Papua akan situasi politik dan hukum yang bersifat represif. Kenyataan bahwa pendekatan keamanan dan berbagai bentuk kekerasan secara sistematis telah menciptakan rasa takut (traumatis) dikalangan rakyat Papua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*