Seorang Meninggal Dan 90 Orang Ditahan Saat Memperingati 1 Juli

Anggota KNPB yang sedang berdiri dan antri untuk difoto sebelum diintrogasi di kantor Polsek Nabarua
Anggota KNPB yang ditangkap sedang duduk halaman Kantor Polsek Nabire Kota (6/07).

ENS-Nabire, Menjelang peringatan hari proklamasi Papua 1 Juli 2017, 90 orang warga sipil telah ditangkap oleh aparat kepolisian Nabire. Peristiwa penangkapan ini terjadi di Karang Mulia (29/06), sekitar pukul 09.30 WIT. Karang Mulia hanya berjarak 500 meter dari pusat kota Nabire.

Yones Douw, Koordinator ELSHAM Nabire yang menerima informasi penangkapan tersebut, langsung menuju lokasi kejadian. Menurut saksi di sekitar lokasi kejadian, beberapa orang pemuda yang bertugas sebagai juru parkir kendaraan roda empat di Terminal Pasar Karang, diusir oleh anggota Polisi dari Satuan Pengendali Massa (DALMAS) dan Birgade Mobil (BRIMOB). Aparat kepolisian lalu melakukan penyisiran dari Terminal Pasar Karang hingga depan Gereja KINGMI Efata, sambil melepaskan rentetan tembakan ke udara.

Inandus Mote (20) yang berlari kemudian bersembunyi di dalam parit, ditarik keluar secara paksa lalu dinaikan dalam truk DALMAS dan di bawa ke Markas Kepolisian Resort (Mapolres) Nabire. Inandus dipukul pada bagian wajah dan kepala dengan popor senapan laras panjang. Akibat pemukulan itu menyebabkan hidung dan mulut Inandus berdarah dan kedua matanya membengkak. Setelah penyiksaan tersebut, Inandus kemudian dimasukan ke dalam sel tahanan.

Sekitar pukul 10.15 WIT, masih terlihat aparat DALMAS dan BRIMOB masih berjaga di daerah Karang Barat, sambil sesekali menembakan Gas Air Mata ke arah kerumunan warga yang berada di sekitar lokasi. Agus Pigome melaporkan kepada ELSHAM Nabire bahwa ada satu peluru gas air mata yang ditembak dan jatuh di depan jendela rumah miliknya. “Anak saya, Frederika Pigome (35) sedang sakit dan terbaring dalam kamar. Gas air mata menyebabkan Frederika tidak bisa tidur, dia tambah pusing, mata, badan rasa sakit. Lalu kami mau bawa Frederika ke rumah sakit tapi tidak sempat. Kami lalu ambil air sungai untuk bersihkan matanya untuk mengurangi pengaruh gas air mata. Sayang, belum sempat mendapat pertolongan medis dari Rumah Sakit Umum Daerah Nabire, tanggal 1 Juli 2017, jam 11 malam (pukul 23.00), Frederika akhirnya menghembuskan nafas terakhir,” terang Pigome.

Selongsong peluru gas air mata yang ditemukan di depan rumah Agus Pigome

Warga lainnya yang tinggal di sekitar Pasar Karang menjadi panik. Beberapa warga yang rumahnya terkena dampak gas air mata yang di tembak polisi, merasa sakit pada bagian mata. Warga yang terkena sengatan Gas Air Mata lalu mencari air untuk membasuh wajah dan sekujur tubuh mereka. Sebagian warga terpaksa memilih untuk mengungsi ke daerah lain yang lebih aman. Frans Tekege menyampaikan bahwa dia memilih mengungsi untuk menghindarkan anak-anaknya dari gas air mata. “Saya amankan anak anak saya ke daerah Kota Lama karena saya kuatir mereka bisa meninggal seperti Ibu Frederika,” tutur Frans Tekege. Untuk menghilangkan pengaruh gas air mata, warga akhirnya menggunakan pengharum ruangan untuk menghilangkan baunya.

Saat sedang melakukan pemantauan warga yang mengungsi ke Kota Lama, ELSHAM Nabire mendapat laporan bahwa polisi telah menangkap Yanto Waine (23) ketika dia sedang memperbanyak selebaran di tempat foto copy. Yanto ditangkap karena dituding memperbanyak selebaran/undangan untuk melakukan diskusi terkait peringatan 1 Juli 2017. Yanto dibawa ke Mapolres Nabire lalu dimasukan ke dalam tahanan polisi.

Tanggal 4 Juli, sekitar pukul 10.00 WIT, sedikitnya 30 orang anggota Komite Nasional Papua Barat mendatangi Mapolres Nabire, bermaksud bertemu dengan Kapolres menanyakan alasan yang mendasari penangkapan terhadap Yanto. Belum sempat bertemu dengan Kapolres Nabire, mereka disuruh buka baju dan duduk di halaman Mapolres, selanjutnya diserahkan kepada anggota BRIMOB untuk diinterogasi. Berdasarkan pantauan ELSHAM Nabire, dari ke-30 orang itu, 28 orang di antaranya disuruh pulang, sedangkan Andi Ekapia Yeimo (26) dan Samuel Wespa Kobepa (24) kemudian ditahan oleh polisi.

Sehari kemudian (5/7), sedikitnya 250 anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) berkumpul di Pasar Karang Tumaritis Nabire. Mereka hendak melakukan aksi Damai ke Mapolres untuk mendesak agar Kapolres segera membebaskan 3 anggota KNPB yang ditahan tanpa alasan yang jelas. Massa melakukan long march dari Pasar Karang Turmartis dengan tujuan Mapolresta Nabire. Ketika sampai di depan Markas Komando Distrik Militer (KODIM) 1705/Paniai, Anggota BRIMOB dan DALMAS menghadang massa dengan senapan laras panjang lalu menaikan massa demonstran ke truk DALMAS, lalu dibawa ke Mapolsek Nabire.

Koordinator ELSHAM Nabire, ketika hendak melakukan klarifikasi ke Mapolsek Nabire Kota untuk memastikan kebenaran informasi tentang penangkapan anggota KNPB, diusir oleh Kapolsek Nabire Kota yang sedang berada di halaman Mapolsek sambil menginterogasi para anggota KNPB. “Segera keluar dari halaman Kantor Polisi, ini saya punya kantor. Keluar dan pulang dari sini, bapak yang perintahkan anak-anak KNPB lakukan demo to? Serahkan handphone kamu ke saya untuk saya lihat isinya,” ujar Kapolres Nabire. Namun Koordinator ELSHAM Nabire tidak memberikan handphone ke Kapolsek Nabire Kota.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh ELSHAM Nabire, diketahui pada tanggal 7 Juli 2017 sebanyak 86 orang anggota KNPB ditangkap dan ditahan oleh polisi. Jumlah keseluruhan anggota KNPB yang ditangkap sejak tanggal 28 Juni 2017 adalah 90 orang. Dari 86 anggota KNPB yang ditangkap pada 7 Juli 2017, 39 yang telah diketahui identitasnya yaitu:

1. Agus Pigai (32)
2. Henok Tebai 29)
3. Marthinus Goo (27)
4. Kristina Yeimo (37)
5. Yonatan gobai (22)
6. Yulianus pigai (37)
7. Metu tebai (31)
8. Martinus Goo (34)
9. Geo mote (27)
10. Sia Gobai (38)
11. Selfianus woge
12. Lenius Newegalen,
13. Tuauminus newegalen,
14. Mathias Newegaleng,
15. Abner Gobay (33)
16. Henok Tebai,
17. Marinus Newegalen (23)
18. Wehelmus Newegalen,
19. Nitiau Newegalen,
20. Jodi Alom (33)
21. Kamangal
22. Yanuarius Degei (28)
23. Agus Kulla
24. Adam Killa (22)
25. Kristianus Pigai
26. Nelhol Magal,
27. Gobai,
28. Abimelek Muyapa,
29. Meri Nawipa,
30. Yanuarius kudiai,
31. Apolos Gobai(39)
32. Sam Degei(35)
33. Abigael Yeimo
34. Abner Yeimo (35)
35. Martinus nawipa,
36. Jhon Degei,
37. Jeck Pigai,
38. Yanuarius Pigai (28)
39. Yosep Pigai (29)

Bagi sebagian orang di Papua, tanggal 1 Juli biasanya diperingati sebagai hari Proklamasi Negara Republik Papua Barat yang didirikan pada 1 Juli 1971. Peringatan ini merupakan bentuk protes dari orang Papua terhadap pendudukan Indonesia terhadap wilayah Papua sejak 1 Mei 1963. ELSHAM Papua ©2017

Facebook Comments
About Admin 32 Articles

Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) di Papua lahir dari perenungan panjang terhadap pergumulan orang Papua akan situasi politik dan hukum yang bersifat represif. Kenyataan bahwa pendekatan keamanan dan berbagai bentuk kekerasan secara sistematis telah menciptakan rasa takut (traumatis) dikalangan rakyat Papua.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*