Home Elsham News Di Jayapura, Tembakan dan Gas Air Mata Membubarkan Demo Tolak Trikora

Di Jayapura, Tembakan dan Gas Air Mata Membubarkan Demo Tolak Trikora

1985
0
SHARE
Massa aksi demo damai di Perumnas 3 Waena. Foto; IST

Jayapura, ENS,- Trikora (Tri Komando Rakyat) yang di maklumatkan Soekarno, Presiden pertama Indonesia sebagai titik awal mobilisasi agresi ke Papua di protes oleh Aliansi mahasiswa Papua (AMP), Komite Nasional Papua Barat (KNPB), dan kelompok solidaritas untuk Papua di Jayapura, Timika, Merauke, Ternate, Malang, Yogyakarta dan Bali (19/12). Aksi damai ini berujung pada pengangkapan 153 orang pendemo. Informasi rencana pelaksanaan aksi protes Trikora telah beredar di media sosial sejak tanggal 15 Desember 2018. Dalam salah satu edaran aksi, disebutkan bahwa aksi ini dikoordinir oleh Komite Nasional Papua Barat (KNPB), Serikat Perjuangan Mahasiswa (SEPAHAM), Gerakan Rakyat Demokratik Papua (GARDA-P) dan West Papua National Authority (WPNA).

Jayapura

Elsham yang melakukan monitoring sejak malam tanggal 18 pukul 22: 00 WIT ke arah Sentani dan dilanjutkan ke Perumnas 3 Waena. Di sekitar Perumnas 3 Waena terlihat aktifitas untuk mempersiapkan spanduk dan poster yang akan di gunakan dalam demo. Sementara itu staf Elsham yang melakukan monitoring ke Jayapura pukul 04.15 WIT melihat ada aktifitas persiapan di POLDA (Kepolisian Daerah) Papua untuk mengantisipasi demo dengan mengumpulkan sejumlah kendaraan seperti Truk, Water Canon dan Baraccuda.

Sejak pukul 07.00, aparat gabungan TNI/Polri telah menempatkan pasukan di depan Kampus Uncen Perumnas 3 Waena dan Terminal Penumpang Ekspo Waena. Dalam melakukan pengawasan, aparat menggunakan seragam rompi anti peluru, tameng pelindung, membawa senjata jenis SS1, dan didukung dengan kendaraan Baraccuda dan Water Canon.

Pagi pukul 08:00 WIT masa mulai menuju ke titik kumpul, Sentani, Waena dan Abepura, sementara itu aparat gabungan juga sudah siaga. Di Sentani pukul 09:00 WIT massa aksi yang berjumlah 15 orang diangkut oleh aparat ke Polres (Kepolisian Resort) Sentani, Starky fotografer yang meliput aksi demo kamera miliknya di rampas oleh petugas. Starky diinterogasi terpisah dari 14 pendemo, stelah 30 menit diinterogasi, ia dibebaskan dan di kameranya di kembalikan tetapi foto-foto dalam kamera telah dihapus. Sore hari 14 pendemo yang diintreogasi kemudian dibebaskan.

Di Perumnas 3 Waena, massa aksi bergerak ke depan gapura Uncen (Universitas Cenderawasih), aparat sudah memblokir jalan menuju pangkalan taxi. Massa yang berupaya untuk bergerak maju dibubarkan aparat pukul 09.30 WIT dengan tembakan dan gas air mata, massa tidak terima kemudian memblokade jalan dengan menggunakan batu, kayu, tong sampah, serta membakar satu unit kendaraan roda empat.

Polisi kemudian melakukan aksi pengejaran dan penangkapan, disekitaran Rumah Susun Asrama Mahasiswa (Rusunawa) Uncen. Polisi juga melakukan penyisiran pada beberapa kompleks perumahan di sekitar Perumnas 3. Setelah melakukan penyisiran di Perumnas 3, polisi menangkap 23 orang. Dalam penangkapan di putaran taksi Perumnas 3, polisi memukul tiga orang pendemo yang ditangkap, yaitu Jefri Wenda, Sely Tebay dan Arfi Asso, mereka kemudian di bawa oleh Polisi. Beberapa warga yang mencoba merekam atau memotret aksi penangkapan, diintimidasi oleh polisi dan satuan intelijen. Hingga pukul 23.30: WIT (19/12), 15 orang pendemo masih di tahan di Polres Jayapura, mereka akan di bebaskan subuh tanggal (20/12). Sedangkan Asso yang sempat dikabarkan hilang ternyata berada di Polres. Polisi memberitahu keberadaan Asso pukul 22.30 WIT, setelah teman-temannya datang dan menanyakan Asso di Polres Jayapura. Aleks G mengatakan, “Kami tidak bisa menemui tahanan lainnya, polisi hanya mengijinkan kuasa hukum mereka”.

Massa yang berkumpul di Asrama Lani Jaya tidak diijinkan keluar asrama oleh korlap (koordinator lapangan) aksi demo, mereka kemudian

Asrama Lani Jaya di kepung aparat. Foto; IST

melakukan kegiatan di halaman asrama. Tak disangka pukul 12:00 WIT, sembilan mobil dalmas (pengendalian massa) masuk dengan pasukan bersenjata lengkap. Pasukan bersenjata lengkap langsung mengepung asrama, mereka lalu memukul, menampar, menendang mahasiswa yang berada di sekitar halaman asrama. Aparat juga menyisir kamar-kamar asrama, bahkan ada kaca kamar yang di pecahkan. “Kami sangat kesal dengan kejadian ini yang sangat tidak manusiawi, kami mau melakukan aksi yang bermartabat, kami tidak keluar dari asrama, hal yang membuat kami sangat kecewa”, ujae Amos Wenda, sekretasis asrama Lani Jaya saat di wawancara Wesy Papua Updates.

Elsham juga memperoleh informasi dari relawan di Jayapura Utara yang megatakan, polisi membubarkan aksi serupa yang dilakukan oleh belasan orang di Dok IX, Jayapura Utara.

Timika

Massa demo yang berkumpul di depan sekretariat KNPB

Wenas Kobogau mengatakan massa demo sejak pukul 06:00-08:00 WIT telah berkumpul di sekretariat KNPB (Komite Nasional Papua Barat), pukul 08:38 WIT massa mulai keluar dari titik kumpul di sekretariat KNPB. Sekitar 65 meter dari sekretariat, massa dihadang oleh aparat gabungan TNI dan Polri. Massa bersikeras untuk menuju kantor DPR Kabupaten Mimika, koorninator aksi melakukan negosiasi dengan polisi, tetapi polisi memberikan opsi di paksa untuk membubarkan diri atau kembali ke kantor KNPB. Polsi sempat menembak ke udara untuk membubarkan massa. Massa kemudian kembali ke sekretariat dan melakukan ibadah bersama. Saat Wenas memotret, polisi melarangnya memotret, kemudian polisi mengambil (HP) hand phone dan menghapus semua foto dan video yang ada dalam hp. “Masa aksi terpaksa kembali ke kantor KNPB, dengan meneriakkan yel-yel perlawanan “Papua Merdeka, Papua Merdeka”, ujar Wenas.

Merauke

Polisi menghadang massa yang berjumlah 26 orang sehingga mereka tidak bisa keluar dari sekretariat, namun polisi menangkap 4 orang dari massa tersebut.

Ternate

Pendemo yang di tarik paksa untuk naik ke mobil. Foto; IST

Aksi protes Trikora juga dilakukan di luar Papua, di Ternate (Maluku Utara) dikabarkan sebanyak 42 orang ditangkap oleh polisi, sedangkan 7 orang lainnya ditangkap oleh pasukan TNI. Sebanyak 27 orang telah dibebaskan, sementara 8 orang tahanan digunduli dan disiksa oleh polisi, ada yang di pukul dengan balok dan di ancam akan dimasukkan asbak ke mulut kalau tidak bicara jujur. Mereka di perintahkan untuk menyanyi lagu Indonesia Raya saat di jemur di terik matahari, selain itu mereka di perintahkan untuk berguling di lapangan basket.

Malang

Dua Mahasiswa di Malang korban pemukulan. Foto; Yohanes Giyai

AMP (Aliansi Mahasiswa Papua) yang melakukan aksi di Stadion Gajayana, Malang sejak pukul 07:00 WIT massa demo mulai berdatangan, saat itu di Stadion Gajayana juga sudah hadir massa reaksioner dan aparat kepolisian. Sekitar pukul 08.00 WIB, massa yang akan melakukan long march meraka dihadang oleh massa reaksioner dan aparat berpakaian preman. Massa kemudian dibubarkan paksa,  sebanyak 64 orang ditahan di Polrestabes Malang, 16 orang dipukul oleh massa reaksioner dan aparat berpakaian preman, sehingga 4 orang mengalami luka memar dan 4 orang mengalami luka. “Kawan-kawan ini kaum intelektual yang akan pulang bangun Papua. Kami yang berada di Jawa, pusat informasi tetapi hari ini di perlakukan seperti ini, apalagi kita punya orang tua di Papua.” ujar Yohanes Giyai saat orasi di halaman Polres Malang.

Bali

Mahasiswa di Bali demo tolak Trikora. Foto; LBH Bali

Aksi damai Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) dan Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) di fokuskan di Parkir Timur Renon Denpasar. Aksi damai ini dijaga ketat oleh pihak kepolisian, walaupun diintimidasi, massa aksi terus melakukan orasi hingga massa yang berjumlah 66 orang itu di bubarkan paksa oleh ormas dan aparat, ada empat orang di pukul, satu orang di pukul hingga berdarah. Massa AMP dan FRI-WP mendesak pemerintah menyatakan bahwa Trikora 19 Desember 1961 merupakan maklumat yang keliru, dan memberikan kebebasan dan hak untuk Papua menentukan nasib sendiri.

 

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh ELSHAM Papua, diketahui bahwa sebanyak 153 orang telah ditangkap oleh Kepolisian Republik Indonesia pada tanggal 19 Desember 2018. Penangkapan ini terkait dengan pelaksanaan aksi protes terhadap “Pemakluman” Tri Komando Rakyat oleh Presiden Pertama Republik Indonesia, yang berisikan tentang rencana invasi wilayah Irian (Papua) Barat pada 57 tahun silam. Aksi-aksi protes dari delapan kota menyebutkan bahwa aparat kepolisian republik Indonesia yang didukung oleh Tentara Nasional Indonesia, telah membubarkan secara paksa, mengejar dan menangkap anggota demonstran.

Pihak kepolisian Republik Indonesia belum mengeluarkan rilis resmi terkait jumlah massa yang ditangkap. Selama 3 tahun belakangan ini, aparat polisi cenderung bertindak diskriminatif dan rasialis terhadap aksi-aksi penyampaian pendapat yang dilakukan oleh orang Papua, atau orang-orang lain yang menyuarakan nasib orang Papua. Kondisi yang berbanding terbalik ketika polisi menghadapi aksi-aksi Ormas Islam yang hendak mendirikan Negara Islam. ELSHAM Papua ©2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here