Home HAM Arnold Ap & HAM (Bagian 1)

Arnold Ap & HAM (Bagian 1)

1116
0
SHARE
Arnold C Ap. Foto; Dr. Nonie Sharp

Pengantar; Tulisan ini merupakan hasil rangkuman diskusi Ikatan Pemida Pelajar Irian Jaya di Salatiga, memperingati kematian Arnold C Ap di Asrama Manisnam Salatiga tahun 1993, mereka mengundang G. J. Aditjondro Dosen Universitas Satya Wacana Salatiga yang juga sebagai teman Arnold Ap saat G. J. Aditjondro bekerja di Jayapura, Papua. Rangkuman diskusi ini di tulis oleh Joost Mirino, kemudian di sebar di milis Papua 18 Maret 2000. Selamat Membaca.

————————-

Tumpang Tindihnya HAM Individual Dan Kolektif Di Papua Barat

Kematian Yang Tragis

Arnold Clemens Ap, BA kepala Museum Antropologi Uncen meninggal dunia 26 April 1984, bertepatan dengan hari Paskah. Sebelum terbunuh, tanggal 21 April malam Arnold melarikan diri atau “dibujuk” melarikan diri dari tahanan Polda oleh seorang polisi yang bernama Pius Wanem. Ikut lari bersama Arnold adalah Agustinus Runtuboi (Sekretaris Desa Nolokla, Sentani), Alex Membri, Eduard (“Eddy” atau “Edu) Maxmillian Mofu (Pegawai FISIP Uncen) dan Johanis Calvin (“Gento”) Rumainum (Mahasiswa FISIP Uncen). Mereka lari dari tahanan Polda melalui jalan belakang yang mengarah ke pantai. Dengan menyusuri pantai mereka berlima menuju ke belakang komplek Gedung Olahraga. Di belakang gedung itu telah menunggu mobil Toyota yang akan membawa mereka berlima ke Pantai Base G. Namun Alex Membri tidak mau naik ke mobil dan langsung menghilang ketempat lain. Sesampai di Pantai Base G ternyata telah menunggu perahu yang akan membawa mereka ke arah barat yaitu Pantai Pasir 6.

Di tengah malam itu setelah melepas pakaian mereka berenang bersama ke arah perahu. Tetapi Eddy Mofu karena ragu-ragu tidak melepas pakaiannya sehingga tidak bisa mencapai perahu. Di tengah gelombang pantai Base G itu Eddy ditinggalkan karena tidak muncul setelah ditunggu. Keesokan harinya warga Tanjung Suajaya yang tak jauh dari pantai Base G menemukan mayat Eddy ang masih berpakaian lengkap terapung-apung di laut. Mungkin ombak yang ganas di Tanjung Suajaya telah merengut nyawa Eddy dengan membantingnya ke batu-batu karang. Sementara itu Arnold, Gento, Runtuboi dan Pius selamat mencapai Pantai 6. Di pantai itulah ia disuruh menunggu perahu yang akan menjemputnya dari Papua Nieuw Guinea (PNG).

Selama tiga hari Arnold dkk menunggu di pantai Pasir 6, selama itu pula nelayan yang membawa ia ke sana mengantarkan makanan. Namun di hari keempat, ketika Arnold sedang senam pagi datang gerombolan tentara dengan mengunakan perahu yang biasa mengantarkan makanan untuknya. Sementara itu Runtuboi, Gento dan Pius melihat tentara datang lari ke bukit-bukit di dekat pantai itu. Arnold entah karena hendak melarikan diri atau melawan langsung ditembak. Dalam keadaan luka parah Arnold digelandang oleh tentara ke atas perahu menuju Jayapura. Tetapi ketika perahu mendarat di pantai Base G pukul 6 sore para perawat dari RS (AD) Aryoko yang membawa dua bungkus cairan infus telah menunggu. Karena pendarahan akhirnya Arnold tak tertolong dan menghembuskan nafas terakhirnya. Mayatnya dengan tiga lubang peluru di perut dan lengan kanan kemudian dimasukan ke ruang mayat RS (AD) Aryoko.

Tanggal 27 April 1984 pukul 3 sore mayat Arnold diserahkan kepada keluarganya dan disemayamkan di rumah dinasnya di depan Museum Antropologi Uncen, Abepura. Mayat Arnold diantar ke rumahnya dikawal tentara dan polisi militer (CPM) dengan sirine yang dinyalakan. Sebelum mayatnya diturun dari mobil ambulans tentara itu, sejumlah tentara sudah maju ke depan dengan bayonet terhunus, menggusur massa ke tepi, meluangkan jalan untuk mayat dimasukan ke rumah. Ratusan orang datang melayat sampai sore.

Atas desakan aparat keamanan, hari itu juga pukul 7 malam mayatnya dikuburkan di perkuburan umum dekat Abe Pantai bersebelahan dengan kuburan Eddy Mofu yang telah meninggal beberapa hari sebelumnya. Menuju ke pemakaman mayat Arnold dibawa dengan mobil dan diiringi sekitar 500 orang dengan berjalan kaki sejauh dua km. Turut mengantar ke pemakaman Purek I Uncen Drs. August Kafiar, MA dengan kebaktian duka dipimpin Pendeta Karel Philemon Erari, M.Th. Mungkin itu suatu penghormatan yang dia belum pernah dapatkan selama dia masih hidup. Prosesi dari rumah ke kuburan itu laksana prosesi pemakaman Martin Luther King. Semua yang ikut dalam prosesi sore itu bergandengan tangan memenuhi jalan dengan diiringi lagu-lagu rohani.

Kematian Arnold membuat seluruh anggota kelompok Seni Budaya, Mambesak mengalami katakutan. Mereka kemudian berpencar. Ada yang pulang ke Serui, ada yang tidak berani datang ke kampus Uncen hingga beberapa bulan. Tapi di tahun berikutnya, kelompok Mambesak yang didirikan Arnold kembal dihidupkan oleh adik Agus Rumansara, Enos Rumansara. Sebenarnya kelompoknya sendiri, tidak pernah dilarang. Namun kejadian yang menimpa pimpinan kelompok itulah yang menimbulkan katarsis, trauma dan ketakutan. Anggota yang menjadi inti dari kelompok ini antara lain, Thonny Krenak yang kemudian jadi koresponden Suara Pembaruan. Juga Sawaki yang sempat pulang ke Serui dan langsung ke kampungnya di Waropen.

Menarik untuk diamati, Arnold justru menjadi semakin terkenal sesudah dia meninggal ketimbang waktu masih hidup. Proses keterkenalannya itu, sebenarnya sudah dimulai waktu dia ditahan. Penahanan terhadap Arnold terjadi pada tanggal 11 November 1983, beberapa hari setelah kelompok Mambesak menghibur rombongan atase militer dari berbagai negara sahabat. Waktu itu Arnold dan seluruh anggota kelompok Mambesak masih menyuguhkan hiburan bagi para atase pertahanan bersama isteri-isteri mereka. Kol. Soegiyono, Wakil Gubernur ketika itu meminta supaya burung kuning (cenderawasih), yang merupakan hiasan kepala Arnold diberikan kepada tim itu.

Sebenarnya, Arnold tersinggung, sebab dia adalah orang yang sangat berusaha menghormati hak-hak adat orang Papua. Maksud Arnold burung kuning hanya boleh dipakai oleh ondoafi atau kepala suku. Dalam konteks Mambesak, ondoafi-nya adalah Arnold. Juga kebetulan sekali bahwa burung kuning yang dipakainya itu, burung kuning dari Numfor. Bukan burung kuning sembarangan. (Numfor adalah pulau yang punya hubungan “adik-kakak” dengan Biak). Tapi karena teman-teman anggota Mambesak bilang, “sudah kasih saja” akhirnya Arnold menyerahkan burung kuning di kepalanya. Sambil memberikan burung kuning, dia ngomong sama seorang temannya, “ya, mudah-mudahan dengan kita kasih upeti burung kuning ini, kalau ada apa-apa dengan kita, ada yang memperjuangkan!”

Ternyata, hanya beberapa hari setelah itu, dia diangkut oleh tiga orang Kopassandha (sekarang bernama Kopasus) yang berbaju preman dan untuk beberapa minggu mendekam ditahan di sebuah bekas restoran yang bernama Panorama, diduga menjadi tempat interogasi Kopassandha.

Berita dan Harapan Yang Terbawa

Kasus Arnold ini menjadi peristiwa yang khusus, karena baru kali ini orang Papua yang baru dalam proses penahanan awal sudah bisa langsung disiarkan ke luar Papua Barat dan keluar negeri. Setelah ketahuan tempat dia ditahan, melalui telpon kejadian itu langsung diberitahukan ke surat kabar Sinar

Harapan (sekarang Suara Pembaruan). Berita yang disampaikan ke Sinar Harapan adalah, “Arnold Ap ditahan dan dia dilarang dikunjungi oleh isteri dan anak-anaknya!.” Berita itu segera keluar di Sinar Harapan. Berdasarkan berita itu, Todung Mulya Lubis yang waktu itu ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) mengirim radiogram ke Kapolda dan Pangdam, mendesak supaya Arnold diproses sesuai dengan KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana), yakni hukum sipil yang berlaku.

Dalam seminggu, berita penangkapan Arnold Ap muncul dua kali di Koran Sinar Harapan. Dua berita itu membuat panas, Kopasandha marah. Kemarahan Kopasandha itu terlihat dari kedatangannya ke rumah saya diantar oleh Mahasiswa di STT-GKI asal Jawa yang juga tentara. Mereka mencoba memaksa saya untuk mengaku, bahwa saya yang kirim beritanya penangkapan Arnold ke Sinar Harapan. Saya menolak! Sebagai bekas wartawan, saya tahu bahwa ada yang namanya kerahasiaan sumber yang harus dilindungi, Juga saya tidak mau mengambil alih tugas Aristides Katoppo atau siapa pun yang menjadi penanggung jawab Sinar Harapan. Kalau ada berita di Sinar Harapan, maka itu bukan tanggung jawab orang yang mengirim, melainkan tanggung jawab koran.

Karena saya terus menolak akhirnya Corry Ap, isteri Arnold, yang ditekan: “Bilang sama Pak George supaya dia mengaku datang ke Panorama. Kalau dia datang mengaku bahwa dia yang kirim beritanya ke Sinar Harapan” kita akan bebaskan Arnold!” begitu kata para interogator Arnold pada isterinya yang

malang. Jadi ini permainan psikologis yang luar biasa, mereka tiba-tiba membuat saya menjadi orang yang begitu berkuasa menentukan pelepasan atau penahanan Arnold. Saya tetap berusaha bertahan, tidak pernah mengaku, tidak pernah juga datang ke Panorama. Tetapi susah juga, Corry berkali-kali datang ke rumah, menangis-nangis dan mendesak saya supaya mengaku pergi ke Panorama. “Masa’ tidak kasihan kakak Arnold ditahan”, kata Corry waktu itu.

Gara-gara dua berita di Sinar Harapan itu, empat orang teman kami, Ottis Simopiaref, Yohannes Rumbiak, Yakob Rumayau dan Loth Sarakan, mulai bergerak. Empat pemuda Papua yang sedang tugas belajar di Jakarta itu protes ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI). Selama mereka di DPR-RI beberapa orang intel Kopassandha telah menungu dan mencarinya nya di asrama Papua di Tanah Abang. Akhirnya Ottis dkk pada tanggal 27 Februari 1984 minta suaka di Kedutaan Besar Kerajaan Belanda. Selama dua minggu mereka diizinkan menginap di Kedutaan Belanda karena staf kedutaan serba bingung. Mulya Lubis tetap menekan Atase Politik Kedutaan Belanda di Jakarta agar tetap melindungi mereka. Jika Kedutaan Belanda melepaskan mereka, sama saja dengan membiarkan orang menuju kematian!

Sementara itu di kalangan sebagian senior Gereja Kristen Injili (GKI), saya dianggap sebagai penyebab Arnold ditangkap, di interogasi dan akhirnya di bunuh. Waktu itu berkembang opini, seandainya, penahanan Arnold Ap itu tidak diekspos (tidak masuk Sinar Harapan, kemudian dari situ masuk berbagai media di Papua Niugini, di Australia, di Belanda), mungkin tentara tidak akan begitu marah dan bunuh dia. Padahal pandangan itu keliru. Bukan berita itu yang membuat Arnold dibunuh melainkan memang Kopassandha telah berencana untuk melenyapkannya, sebagai bagian dari rencana Kopassandha untuk membongkar seluruh jaringan Organisasi Papua Merdeka (OPM) kota.

Selama ditahan, Arnold diinterogasi dengan berbagai macam teknik. Melalui cara ini Kopassandha berharap Arnold mengakui bahwa ia terlibat dalam OPM dan membongkar seluruh jaringan OPM, yang menurut Kopassandha terdiri dari dua kubu. Kubu pertama yang revolusioner yang berada di hutan yang berjuang dengan senjata, termasuk di antara mereka, kalangan tentara Papua di Kodam Cenderawasih yang melakukan desersi. Kubu kedua OPM yang berada di Kantor Gubernur dan Uncen. Arnold dipaksa untuk memberi tahukan seluruh jaringan OPM yang kemudian akan diberantas secara diam-diam dengan Silent Operation (operasi rahasia). Ternyata setelah seminggu Arnold ditahan, kira-kira pertengahan atau akhir November, beritanya muncul di Sinar Harapan seiringan dengan protes YLBHI seminggu kemudian.

Brigjen TNI/AD Raja Kami Sembiring Meliala yang waktu itu menjadi Panglima Kodam Trikora memungkinkan Kopassandha bergerak melewati wewenang Polda. Sebenarnya Arnold hanya “dititipkan” saja di tahanan Polda, tetapi yang menentukan semua skenario tetap Kopassandha. Mereka sangat marah ketika keluar berita di Sinar Harapan, disusul dengan rentetan berita berikutnya di harian tersebut. Apa lagi aksi Yohannes Rumbiak dan kawan-kawan membuat tegang hubungan Indonesia dengan Belanda. Akibat pemuatan berita itu, Sinar Harapan hampir saja di bredel, kecuali segera minta maaf. Permintaan maaf itu tidak hanya ke Menpen Harmoko di Jakarta, tetapi juga kepada Sembiring Meliala. Karena itu Daud Sinyal, seorang pimpinan redaksi SH dikirim ke Papua Barat. Hendarto (orang Jawa) yang formal koresponden Sinar Harapan, juga ikut kecipratan getahnya dan terpaksa bolak-balik dipanggil ke Kodam. Menurut perkiraan Kodam, Hendarto-lah yang mengirim berita tersebut.

Kasus Arnold adalah pengalaman yang berharga bagi para pembela Hak Asasi Manusia. Dari kasus Arnold, saya melihat bahwa penahanan yang tidak sesuai dengan KUHP yang diekspos Sinar Harapan juga YLBHI, justru menimbulkan kemarahan aparat Kopassandha, karena telah mengacaukan rencana mereka semula. Mungkin setelah ada berita itu Arnold tidak bisa lagi ditekan dan diperas agar membongkar seluruh jaringan yang bersimpati ke OPM. Akhirnya nyawa Arnold dihilangkan.

Cara yang digunakan untuk menghilangkan nyawa Arnold, mungkin tidak terlalu asing bagi orang yang tahu tentang pembunuhan tahanan politik di Timor Lorosa’e dan Acheh. Orang dibiarkan melarikan diri dari tahanan, setelah itu diburu dan ditembak. Para petugas keamanan biasanya mengatakan bahwa sang tahanan berusaha melarikan diri dan melakukan perlawanan yang membahayakan petugas sehingga terpaksa ditembak. Begitulah yang menimpa Arnold. Ia dan kawan-kawannya lari tanpa senjata. Pada saat itu ia berada di pantai bersama salah satu dari kawannya itu. Eddy Mofu, sudah meninggal terlebih dahulu, dan Gento beserta satu temannya lagi memanjat Pegunungan Cycloops yang tembus ke Kotaraja. Jadi yang tertinggal hanya Arnold dan satu temannya. Bagai mana dia mau melawan enam orang Kopassanda yang bersenjata lengkap, yang diantar kembali oleh perahu Serui? Tidak mungkin dia yang hendak mencelakai personil Kopassandha. Justru yang bisa terjadi adalah sebaliknya.

Sekali lagi yang menimpa Arnold sama dengan yang di Acheh dan Timor Lorosa’e. Aparat memilih jalan pintas sebagai alternatif pemecahan terhadap kesulitan mengorek informasi. Menahan orang lama merupakan pemborosan biaya untuk interogasi dan biaya pemeliharaan sekian banyak orang. Lebih murah biaya sebutir peluru, Rp 5000 atau 10.000 perak, atau dengan sebilah bayonet, yang tidak pakai uang. Dari pada uang Rp 10.000 itu untuk beli peluru lebih baik untuk belanja kan lumayan, bayonet kan bisa dipakai berulang-ulang, lain dengan peluru.

Sebelum kasus Arnold terjadi, sudah ada kunjungan dari Adnan Buyung Nasution, almarhum Yap Thiam Hien dan Todung Mulya Lubis ke Port Numbay (d/h Jayapura) untuk menjajaki kemungkinan pembentukan sebuah kantor cabang LBH di sana. Itu sebabnya di akhir 1983 itu, pernyataan Mulya Lubis termuat di koran-koran, bahwa pelanggaran hak asasi di Papua Barat tergolong yang tertinggi di Indonesia. Jadi peristiwa Arnold itu makin mensolidkan usaha LBH, YLBHI kerja sama dengan kedua kelompok gereja di Papua Barat – gereja Katolik dan GKI di Irja –  untuk mendirikan cabang Lembaga bantua Hukum (LBH) di Port Numbay.

Ada sesuatu yang menarik pada waktu tim Buyung datang ke Papua Barat. Di rumah saya mereka bertemu dengan Arnold bersama-sama Phil Erari dan Mika Manufandu (Wali Kota Jayapura waktu itu). Dalam pertemuan itu Arnold menyampaikan peringatan Silas Antoh (Pembantu Rektor III Uncen waktu itu). Kata Silas pada Arnold: “Ade (adik), ada yang mau cari ade, dari latar belakang baju hijau. Jadi kalau mau lebih aman, tinggal di rumah saya saja!” Jadi Silas Antoh menawarkan Arnold untuk pindah ke rumah PR-III, supaya dengan demikian keamanannya lebih terjaga. Kepada Antoh, Arnold menjawab: “Ah, tidak usah saja, saya mau tetap tingal denga keluarga saya. Biar kalau saya diangkat, keluarga saya juga bisa tahu siapa yang angkat saya dan mau dipindahkan ke mana!” Demikian kisah Arnold kepada Buyung dan kawan-kawan. Ternyata hal itu benar terjadi. Dari situlah dugaan saya, bahwa rencana penangkapan Arnold sudah lama dipersiapkan.

(Bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here