Home Elsham News TIDAK MILIKI KARTU KUNJUNGAN DI RUMAH SAKIT, KELUARGA PASIEN ...

TIDAK MILIKI KARTU KUNJUNGAN DI RUMAH SAKIT, KELUARGA PASIEN DIANIAYA

479
0
SHARE
Muka Anton Muyapa S.Sos korban Penganiayaan TNI AD Denzipur 112 Nabire di RSUD Siriwini Nabire

Jayapura, ENS. Son Kadepa (13), Siswa Sekolah Dasar Kelas VI mengalami kesakitan sehingga ia diantar oleh orang tuanya untuk rawat Nginap di Rumah Sakit Umum Daerah Siriwini Nabire. Sakit yang ia alami son ialah badan panas, munta munta. Di Rumah Sakit, Son dirawat di ruang Anak.

Anton Muyapa (53), dari rumah tujuan  menengok anaknya di Rumah Sakit. Tiba di Rumah Sakit, Anton menyapa anggota Denzipur 112 yang bertugas didepan pintu masuk. Anton minta ijin masuk  melihat Son yang  terbaring di ruang anak. Sementara duduk, kurang lebih 5 Menit, 8 Anggota Denzipur masuk ke ruangan anak untuk menyampaikan, orang yang tidak memiliki kartu kunjungan (kartu ijin menjenguk pasien) dipersilahkan keluar. Anton lalu sampaikan ke petugas bahwa ia mohon kebijaksanaan duduk beberapa menit bersama anaknya lalu ia keluar dari ruangan. Namun permohonan Anton tidak dihiraukan. Terjadi aduh mulut.

Bagaimana kelanjutan dari peristiwa ini?

Ada baiknya kita ikuti pengakuan dari Anton Muyapa dan Saksi Mata berikut ini:

“Saya sampaikan ke 8 anggota Denzipur itu, berikan saya waktu beberapa menit duduk bersama anak saya, mereka tetap memaksa saya keluar dari ruangan rumah sakit”. Sebagai orang tua saya memang rasa kesal, saya baru masuk duduk lihat kondisi anak saya langsung disuruh keluar. Saya marah lalu protes tindakan mereka. Mereka pukul dan tendang saya. saya jatuh tersungkur di lantai, lalu mereka tarik saya keluar dari ruangan”.

“Kami lihat Anton dipukul sampai dia tidak sadarkan diri lalu tergeletak di jalan depan rumah sakit, kami  bawa ke ruang UGD. Saat berada di UGD mereka ambil HP kami. Mereka sampaikan ke kami untuk bahwa  pulang anak itu (anak Son) keluar dari ruang anak, untuk segera dibawah pulang ke rumah. Kami ketakutan sehingga bawa pulang anak kami (Son Kadepa) ke rumah, tutur Saksi yang tidak mau namanya disebutkan dalam laporan ini.

Berdasarkan hasil Investigasi Koordinator Pos Kontak Elsham Papua Kabupaten Nabire, Anton mengalami penganiayaan sebagai berikut; Luka di Bibir sehingga sobek, Pelipis mata Kiri  bengkak, Pelipis Kanan luka, Luka di testa, Pipi kiri dan kanan bengkak, Otak kecil belakang luka dan bengkak, bahu kiri kanan sakit dan dada mengalami sakit. Hidung dan mulut mengeluarkan dara. Kejadian ini terjadi pada Tanggal 3 Maret, di Ruang Anak, Rumah Sakit Umum Daerah Siriwini.

Dari hasil investigasi Elsham Papua, ada dua kasus yang senada, yaitu, pemukulan terhadap Naftali Yogi (22) dan John Kamandirai (34).  Dua kasus ini terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah Siriwini Nabire.

Bagaimana awal kasus ini terjadi?

Ikuti keterangan korban berikut ini;

Naftali Yogi (22), Mahasiswa salah satu Umiversitas di Pulau Jawa ini menjelaskan, Jumat (22/03), Pukul 15.00 Wit. “Saya pergi ke rumah sakit melihat keluarga yang dirawat di Rumah sakit. Benar saya tidak miliki kartu kunjungan, saya masuk di ruang Nginap Pria. Sementara duduk, anggota Denzipur 112 masuk tanya saya! Ada kartu tanda masuk? Saya jawab tidak ada.  Mereka lalu pukul saya, tendang, darah keluar dari mulut, hidung. Lalu saya dibawa ke ruang UGD untuk berobat. Usai mendapat perawatan dari medis, saya pulang ke rumah. Setelah sembuh dari sakit, baru saya kembali ke Jawa lanjutkan Kuliah, tutur Yogi kepada Koordinator Elsham Pos Kontak Nabire.

Muka Jhon Kamandirai korban Penganiayaan TNI AD Denzipur 112 Nabire di RSUD Siriwini Nabire

Kasus serupa juga dialami oleh John Kamandirai (34). Setelah korban mengadu ke Elsham atas penganiayaan yang ia alami, Elsham lakukan investigasi dan hasilnya adalah, Tanggal 22 Maret, Pukul 09.00 Wit, Jhon Kamandirai dari rumah pergi melihat saudaranya yang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Siriwini Nabire. Tiba di Rumah Sakit, John parkit motor di depan UGD, selanjutnya John lapor ke petugas jaga (Denzipur 112). Saya sampaikan ke petugas bahwa saya datang gantikan istri saya untuk temani adik saya yang di rawat di ruang Nginap. Lalu petugas bertanya, “ada kartu tanda jaga? Tolong tunjukan kartu tanda jaga baru kami persilahkan masuk”saya jawab, tidak miliki kartu tanda jaga/masuk! Saya mohon ijinkan saya masuk lihat adik saya sebentar saja lalu saya keluar, tapi petugas tidak ijinkan saya masuk lihat adik saya. Selanjutnya saya pamit dan berjalan ke arah pintu bagian belakang rumah sakit. Saya masuk lewat pintu belakang rumah sakit, saya ke ruang Nginap Wanita karena adik saya dirawat di ruang itu. Sementara duduk, adik saya sedang tidur, lalu saya duduk beberapa menit lalu keluar. Saya jalan sampai di depan UGD, 2 anggota/petugas (denzipur 112) hadang saya lalu pukul. Saya dipukul bertubi tubi, saya takut dan lari selamatkan diri ke rumah dan tidak kembali ke rumah sakit lihat adik saya, karena saya takut mereka pukul dan akan bunuh saya”.

John alami luka dibagian muka, dipukul dengan kayu di bahu kiri dan kanan, sebanyak 2 kali, 4 kali kena pukul di bahu kiri, 2 kali kena pukul dibagian kepala dengan kayu,  tutur  Pria asal Kampung Jamor, distrik Kaimana ke Elsham Pos Kontak Nabire.

Gedung Instalasi Farmasi RSUD Nabire baru di mulai Tahun 2018
Gedung Polik klinik RSUD Nabire baru di mulai Tahun 2018

Untuk diketahui, kasus ini sudah dilaporkan ke Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Nabire. Tanggal  5 Maret, Pukul 11.00 Wit, Koordinator Pos Kontak Elsham Nabire, Jones Douw, bertemu dengan  kepala Dinas Kesehatan guna laporkan kasus yang dialami korban tersebut. Jones menyarankan agar anggota Denzipur yang titugaskan menjaga keamanan di Rumah Sakit Umum Daerah Siriwini Nabire ditarik keluar diganti dengan petugas keamanan dari pihak Rumah Sakit. Biarkan keamanan dijaga oleh petugas rumah sakit, bukan dari militer atau kepolisian, tegas Jones.

Dalam pertemuan itu, Kepala Dians Kesehatan berjanji akan laporkan hal ini ke Pimpinan Daerah, dalam hal ini, Bapak Bupati.  Jones juga mendesak agar Direktur Rumah Sakit Umum Daerah Siriwini, bapak Johni Ribo Tandasau segera diganti. Ketegasan untuk digantinya Direktur Rumah Sakit ini berdasarkan kasus penganiayaan yang selama ini terjadi terhadap para pengunjung Pasien, juga bersasarkan pengaduan yang dilaporkan baik korban maupun keluarga korban ke Perwakilan Pos Kontak Elsham Papua di Nabire.  Menurut Kepala Dians Kesehatan, pihak keamanan dari satuan Denzipur ditugaskan di Rumah sakit karena selama ini sering terjadi keributan antara masyarakat yang mengantarkan pasien ke rumah sakit, juga ada orang orang yang sering mabuk mabukan di lingkungan rumah sakit. Hal ini mengganggu kenyamanan pihak rumah sakit untuk layani pasien, jawab Kepala Dinas Kesehatan menanggapi penjelasan Jones.

Sementara kartu Jaga/kartu ijin masuk rumah sakit, dari hasil investigasi yang dilakukan, setiap pasien yang dibawa ke rumah sakit untuk rawat Nginap atau berobat jalan, pengunjung pasien atau pengatar pasien diwajibkan membayar Rp. 50.000. 1 kartu itu digunakan bisa berganti ganti. Artinya, pengujung yang masuk harus membawa kartu jaga, setelah masuk melihat pasien, jika keluar dan pulang ke rumah, kartu itu diserahkan ke yang lain untuk digunakan masuk ke runangan nginap melihat pasien yang dikunjungi.

 ENS

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here