Home Elsham News Kronologis Demo Penolahkan Rasisme Terhadap Bangsa Papua Di Nabire

Kronologis Demo Penolahkan Rasisme Terhadap Bangsa Papua Di Nabire

314
0
SHARE
Masa aksi demontrasi di Nabire
  1. Tanggal 20 Agustus 2019 Jam 9. 00 wp sampai  3 00 wp

Pada tanggal 20 Agustus 2019 Jam  20  orang berkumpul di Oyahe, mereka  long Marks menuju kantor DPRD Kabupaten Nabire  melalui jalur kali bobo, selama perjalanan jel-jel atau menyanyi KAMI BUKAN MONYET TAPI KAMI BANGSA PAPUA, KAMI BUKAN MERAH PUTIH TAPI BINTANG  KEJORA ,  KAMI BUKAN INDONESIA TAPI MAU MERDEKA dan   Jel-jel itu Merdeka,Merdeka, Merdeka,  Merdeka dan lawan , lawan, lawan , Sampai di kantor DPRD  masa  Jumlahnya bertambah 1000 lebih orang , Masa Pendemo di terima  oleh 5 anggota DPRD Nabire , DPRD Nabire  berjanji ini pernyataan harga diri kami bangsa Papua  jadi kami sendiri antar  kepada Bapa Gubernur dan  DPRP Papua.   Setelah Menyerahkan pernyataan  ke DPRD Nabire masa pendemo lanjutkan Demo  ke Kantor  Bupati , dalam perjalanan menuju ke kantor  Bupati   Masa Pendemo bertambah mencapai 2 500 orang lebih, Menyanyi dan Jel-jel sama seperti diatas. Sampai di Kantor Bupati di terima oleh Bupati Mereka Sampaikan Pernyataan Penolahkan Rasisme.  Bupati Mengatakan  Saya akan lanjutkan kepada Bapak Gubernur  untuk melanjutkan kepada Bapak Presiden Republik Indonesia. Setelah itu Masa Pendemo bubar dengan tertib.

  1. Tanggal 21 Agustus 2019 ,

Solidaritas Anti Rasisme ( SAR ) bersama  Aliansi Mahasiswa Papua    ( AMP )  membagi selebaran untuk mengadakan aksi demo besar-besaran di kantor DPRD dan di Kantor Bupati Nabire titik kumpul Masa di siriwini, Pasar Karang, Kalibobo depan Lurah dan Wadio depan Hotel Jepara.  Setelah Polisi terima surat dari Solidaritas Anti Rasisme , Polisi menghimbau seluruh sekolah, seluruh kantor, seluruh Tokoh, kios warung di seluruh kota Nabire di liburkan di tutup.

  1. Tanggal 22 Agustus 2019, Massa berkumpul di empat titik yaitu
  2. Titik Pertama : Sanoba, Samabusa, Kingmi, Siriwini, Lagari, Makini dan KPR Siriwini

berkumpul di depan RSUD Siriwini,

  1. Titik kedua :   Oyehe, Kota Baru, Kalisusu, Karang Mulia, kali harapan,Kampung Harapan, Yapis, Karang Barat dan Timur, Grimulyo, Kali Nabire dan Batalyon . Berkumpul di Pasar Karang
  2. Titik ketiga :  Kalibobo, Jayanti Bawah, Waroki, Wadio Pantai Kota Lama.  berkumpul  di depan kantor Kelurahan Kalibobo
  3. Titik keempat : Wadio atas, Wadio Bawah, KPR, Jayanti dan belakang DPRD , Wanggar , SP.1,2,3,berkumpul di depan Hotel Jepara Wadio.
DPRD orasi di depan masa penolakan Rasis

       Masa Mulai bergerak menuju Ke DPRD Nabire

  • Jam 8 00 wit Masa yang berkumpul di Siriwini mulai bergerak menuju Ke DPRD Nabire  Sampai di Oyehe,
  • Jam 8 30 wp Masa yang berkumpul di pasar karang mulai bergerak menuju ke DPRD Nabire,
  • Jam 9 00 Wp Masa yang berkumpul depan Hotel Jepara Wadio mulai bergerak  menuju ke DPRD, sampai prempatan Wonerejo Masa dari Wadio mereka tunggu masa dari Pasar karang sama-sama menuju kekantor DPRD Nabire.
  •  Jam 9 30 Masa yang berkumpul di depan kantor Lurah Kali bobo  menunggu masa dari  Siriwini, Masa dari Siriwini di tiba di Kalibobo sama-sama  bergabung menuju ke Kantor   DPRD Nabire.

Masa dari Siriwini dan Masa dari  Kalibobo mulai bergerak menuju ke kantor DPRD , Masa dari Karang Tumartis dan Masa dari  Madio mulai bergerak menuju ke Kantor DPRD Nabire, Sampai di pintu Gerbang DPRD Nabire   Masa Karang dan Madio menunggu masa dari Kalibobo dan Siriwini, Kurang lebih 30 Menit menunggu masa dari arah pantai tiba. Masa dari 4 Titik berkumpul di depan Pintu Gerban sama-sama masuk di halaman kantor  DPRD Kabupaten Nabire.

Masuk  di ihalaman kantor Nabire masa waita 4 kelompok  lalu kami sangat sulit di kendali karena puluhan ribu orang sehingga terjadi mulai pelemparan kearah Aparat Brimob dan TNI  yang berdiri di depan dan kantor DPRD, sehingga kaca-kaca kantor DPRD beberapa picah, Aparat TNI POLRI membalas dengan puluhan gas air mata dan tembahkan bertubi-tubih atau berulang-ulang itu berlangsung kurang lebih 30 menit. Setelah Masa juga aman dan TNI POLRI juga  aman  Para Pimpinan Agama  dan Aktivis HAM Masuk di halaman kantor DPRD Nabire Masa mulai masuk di halaman untuk menyampaikan aspirasi.

Akibat dari terjadi  keributan itu membuat kurang lebih 8000 orang pulang kerumah untuk menyelamat diri.

Aksi Demo Damai di lanjutkan  sebelum orasi di mulai pemimpin aksi mengundang masa pendemo semua duduk di tanah  dan masuk dalam halaman kantor DPRD , namun trauma dengan rucuh awal tadi  ribuan masa pilih berdiri di luar pagar , mereka dengar suara melalui pengerak suara, Setelah itu Para pemimpin Demo  orasi-orasi secara bergantian , Orasi  para pemimpin Demo damai adalah :

  • kami bukan Monyet, kami bukan kera, kami bukan Gorila, kami bukan babi, kami bukan anjing, kami bukan bodoh dan kami bukan pemalas,
  • Kami bukan Monyet tapi kami bangsa Papua
  • Kami bukan milik Merah Putih tapi kami milik Bintang Kejora
  • Kami bukan Bangsa Indonesia tapi Kami Mau Merdeka Menjadi Negera Papua Barat
  • dan Jel-jel itu Merdeka,Merdeka, Merdeka,  Merdeka dan lawan , lawan, lawan,
  • Tanah Papua bukan milik Indonesia tapi kami bangsa Papua punya.
  • Hei Bangsa Manusia Indonesia Lepas Kami Bangsa Monyet, Bangsa Kera dan Bangsa Gorila mau Merdeka.
  • Hei Perserikatan Bangsa-bangsa ( PBB) dengar ka tidak  Bangsa Monyet , Bangsa Kera dan Bangsa Gorila kami Mau Merdeka dari Negara  Manusia Indonesia ini ,  Dari Sejak Bangsa Papua di gabungkan dengan NKRI Rasisme selalu di loncarkan. Seperti Gambar frans Kaisepo dimata uang rp 10 000  orang di luar papua tidak biasa pakai karna bergambar monyet.
  • Hei DPRD Monyet kamu kemana datang terima kami massa monyet tiba di kantor monyet dan mana Bupati Monyet.
  • Gubernur Papua, Bupati-Bupati, Camat-camat, Lurah, Desa, RW sampai RT adalah  Kolonialis-kolonialis monyet kepada monyet-monyetnya sendiri di tanah Papua.

Selanjutnya itu  Para Pemimpin Demo Memberi  Kesempatan kepada Pemimipn Agama, Kepala Suku Pedalaman, Kepala suku Pesisir  Pantai, Tokoh HAM Wilayah Meepa dan Papua, Tokoh Perempuan.

Para Pemimpin Demo Memberikan Kesempatan  Kepada  :

  1. Perwakilan Pimpinan Agama  yang di Wakili Oleh  Pendeta Yunus   Sth

Saya mewakili Para Hamba Tuhan menyampaikan bahwa kami dengan tegas menolak  Rasisme  yang di alamatkan kepada Kami Bangsa Papua sebab manusia siapapun di buka bumi   ini di ciptakan gambar  serupa dengan  Allah termasuk kami Orang Papua oleh Karena itu  kami pimpinan Gereja  Nabire bersama Seluruh Hamba Tuhan  di Kabupaten Nabire Meminta kepada Bapak   Yoko Widodo Presiden Republik Indonesia  menangkap, pengadili dan menghukum seberat-beratnya kepada     Siapa orang yang mengeluarkan ujaran kebincian atau kata-kata  Rasisme itu. Mulai sekarang  tidakboleh  ada kata-kata Rasisme lagi terhadap kami Orang Papua.

  1. Kepala Suku D3 ( Dani, Damal dan Dauwa ) di Sampaikan Oleh Yopy Murib

Mulai dengan kata Merdeka, Merdeka, merdeka, saya kepala suku besar D3 sampaikan bahwa kami juga punya  harga diri kami bukan binatang kami bangsa Papua untuk itu saya minta Presiden Yokawi  segera tangkap orang mengucapkan kata-kata Rasisme itu , Saya minta kepada Gubernur Papua Segera Pulangkan  seluruh Mahasiswa di Luar Papua ke Tanah Papua, kami tidak bisa hidup dengan Indonesia, kami bangsa Papua kasih  Hutan kami , Emas dan Perak kami Kasih ,Tanah kami kasih  tetapi Bangsa Indonesia selalu membunuh-di bunuh terus untuk itu saya kepala suku besar minta kepada PBB Segera selesaikan persoalan status politik tanah Papua/

  1. Tokoh Masyarakat Pesisir Pantai di Wakili oleh Hendrik Handoi

Saya mewakili Masyarakat Pesisir Pantai mengatakan bahwa dengan tegas menolak Kata-kata Rasisme  yang di lontarkan oleh Ormas-ormas, TNI POLRI dan Salpopp  terhadap kami bangsa Papua , kami juga punya Harga diri  sama seperti  bangsa lain di muka bumi ini , untuk itu Kami minta  kepada Yokowi  segera  menangkap Ormas-ormas, TNI POLRI dan Salpopp  yang mengucapkan kata-kata ujaran kebencian dan Rasisme terhadap orang Papua.

  1. Tokoh Perempuan di sampaikan Ketua Solidaritas Perempuan Papua : Natalia Kobogoau

Saya memperkenal Nama Saya Natalia Kobogau  Ketua Solidaritas Perempuan Papua Kabupaten Nabire. Pada kesempatan ini mama Monyet menyampaikan bahwa kami mama-mama Papua menyampaikan bahwa dengan tegas menolak kata Monyet, Kata Kera dan Kata Gorila terhadap  kami Bangsa  papua karena kami juga sama dengan Bangsa lain. Kami mama-mama  papua tidak pernah melahirkan Monyet-monyet tetapi kami selalu melahirkan manusia-manusia yang selalu di bunuh-bunuh oleh TNI POLRI.  Kami mama-mama melihat bangsa Papua tidak bisa hidup dengan bangsa ini Kami bangsa papua harus keluar dari Indonesia, harus keluar dari Indonesia, harus keluar dari Indonesia, harus keluar dari Indonesia.

  1. Tokoh HAM Wilayah Meepago/Papua di sampaikan Oleh : Yones Douw

Hidup orang asli  papua yang berkulit hitam berambut kiriting dan hatinya lembut di tempat oleh Tuhan diatas Tanah Papua yang Kaya raya ini, hidup orang asli Papua, hidup orang asli Papua, hidup orang asli Papua.  Kita harus ketahui bahwa Rasisme itu Bukan Persoalan Orang asli Papua, bukan lagi  persoalan Indonesia tetapi Rasisme Persoalan Internasional karena ada Kovena PBB yang melarang Rasisme di seluruh dunia di dalam Kovena Rasisme itu Pemerintah Indonesia juga ikut Penandatangani. Ungkapan Rasisme di depan Asrama Papua di malang Surabaya  itu di keluarkan atau di ucapakan oleh TNI POLRI berarti Bahwa  TNI POLRI  telah melakukan  melanggaran HAM dan Penyerangan Densus 88 di Asrama Papua  Kamasan  lalu tembak gas air di dalam asrama dan tembak peluruh tajam ke asraman merupakan pelanggaran HAM . Di Tanah  Papua TNI POLRI   selalu Tembak  mati Orang asli Papua dengan Peluruh Tajam seperti binatang sehingga terjadi pelanggaran HAM terbesar di atas Tanah papua.kalau  di luar Tanah Papua TNI POLRI selalu mengucapkan ujaran kebencian dan Rasisme terhadap Kami Orang asli Papua. Ujaran Kebencian atau Rasisme ini tetap akan ada terus didalam Negara kesatuan Republik Indonesia ( NKRI )  disebab karena ada 2 faktor utama   sulit untuk di persatukan yaitu :

  1. Bangsa     Papua keluar dari  Negera Kesatuan Repblik Indonesia ( Papua Merdeka Sendiri )
  1. Bedah Warna Kulit dan Rambut sangat bedah

Masyarakat Papua harus Ketahui bahwa Pemerintah Indonesia sedang menyerhanakan  masalah Rasisme dan sedang menutup-tutup kita melihat Purnawi Jenderal TNI  Wiranto Menteri Koordinator Politik hukum dan ham  ( menkopolhukan ) , Tito Karnavian   Kapolri dan Cahyo Kumorou  Menteri dalam  Negeri mengatakan siapa yang menyebarkan Hoaks  Pihak Kepolisian akan kerja , dengan demikian maka akar masalah, kekerasan  yang di hadapi  Mahasiswa , ujaran Kebincian atau Rasisme mereka sembunyi. Bangsa Papua selalu dibodohi oleh bangsa bodoh ini.

Masayarakat asli Papua, Pendeta, Pastor, DPRD , Para Pejabat Papua dan Masa Pendemo sudah tahu ka Pelanggar an HAM yang di lakukan oleh Negara  Indonesia terhadap Bangsa Papua Saat ini,  Semuanya diam lalu  Tanya  Siapa punya HP jaringan Internetnya Masuk semuanya mengatakan jaring an internet tidak masuk, ada mengatakan Jaringan di blokir. Jaringan Internet di tutup atau di blokir oleh Negera  itu telah membatasi  kebebasan komunikasi dan  membatasi hak berbicara sebagai warga Negara Indonesia sehingga Negara Indonesia telah   melanggar HAM sebab di dalam Kovenan Sipil dan Politik   ( Sipol ) PBB Pemerintah wajib  menjamin kebebasan komunikasi terwarganya.

Tanggapan Anggota   DPRD Kabupaten Nabire

Menurut Dua anggota DPRD yang  menerima Massa Demo Anti Rasisme di halaman Kantor  DPRD Menyampaikan bahwa : seluruh anggaota DPRD Nabire Sudah berangkat ke Jayapura untuk Mengantar aspirasi Demo tanggal 20 Agustus 2019 ke Gubernur Papua, yang ada kami berdua jadi kami menerima Massa Pendemo Anti Rasisme sekarang ini, Aspirasi  yang lalu sudah serahkan di tangan Gubernur, aspirasi sekarang  ini juga kami akan lanjutkan Gubernur, kita anggota DPRD juga di sebut Monyet kita semua orang  asli papua di sebut monyet ini Kami  tidak terima sebagai wakil Rakyat karena kami juga manusia sama seperti manusia lain, untuk itu kami juga sampaikan kepada Bupati Nabire  keluarkan anggaran khusus  untuk kasih pulang seluruh Mahasiswa Papua asal Nabire .Kami sampaikan Masyarakat pulau lain Stop Ujaran kebencian terhadap kami orang asli papua.Kami juga minta kepada Yokowi  segera menangkap ormas, TNI POLRI yang melontarkan Rasisme dan harus  diproses  hukum.

Menyerahkan Penyataan sikap Solidaritas Anti Rasisme Kepada Pemerintah Daerah Nabire

Akhir dari demo Solidaritas Anti Rasisme dapat menyerahkan menyataan Sikap kepada Perwakilan  Pemerintah Daerah , sebelum menyerahkan  penyataan itu para pemimpin Demo membacakan pernyataan itu di hadapan Massa pendemo, sesudah itu Surat Pernyataan itu di bacakan para pemimpin Demo   dapat menyerahkan Pernyataan sikap itu  kepada   Pemerintah Daerah yang di wakili Oleh Asisten I Kabupaten Nabire dapat disaksikan oleh DPRD Nabire, ASN, Para Pimpina Gereja, Tokoh Masyarakat dan Massa Pendemo. Ditutup dengan doa yang di pimpin Oleh Pastor Yusup di Meriam.

Selesai itu Masa membubar diri dengan aman dan tertib pulang kerumah masing-masing.

ENS

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here