Setop Impunitas terhadap Penjahat HAM
Kekerasan bersenjata dan pelanggaran HAM terus terjadi di Tanah Papua; penyelesaian kasus Wasior dan Wamena Berdarah masih tersendat.
1 Februari 2025
Sejak 1998 — Jayapura, Papua
ELSHAM Papua adalah lembaga independen yang lahir dari keprihatinan gereja-gereja dan para pembela HAM Papua. Kami memantau, mendokumentasikan, dan mengadvokasi penyelesaian pelanggaran hak asasi manusia — dari kasus masa lalu hingga peristiwa yang terjadi hari ini.
1998
Berdiri di Jayapura
100+
Kasus HAM terdokumentasi
13
Kasus dikategorikan berat
27
Tahun mengawal keadilan
Our Work
Setiap laporan yang kami terima ditangani melalui proses yang sama: pemantauan lapangan, verifikasi, advokasi hukum, dan diseminasi kepada publik serta lembaga internasional.
Tim lapangan kami mengumpulkan kesaksian, memverifikasi fakta, dan mendokumentasikan setiap dugaan pelanggaran secara sistematis.
Mendorong kasus-kasus pelanggaran berat ke jalur pengadilan HAM dan mengawal proses penyelesaian non-yudisial.
Membangun kesadaran hak asasi manusia di kalangan masyarakat adat, gereja, dan generasi muda Papua.
Menyuarakan situasi HAM Papua ke badan-badan internasional dan berkolaborasi dengan mitra riset global.
News
Kekerasan bersenjata dan pelanggaran HAM terus terjadi di Tanah Papua; penyelesaian kasus Wasior dan Wamena Berdarah masih tersendat.
1 Februari 2025Sepanjang 2023, ELSHAM mencatat rangkaian penangkapan dan pengungsian internal di Boven Digoel, Wamena, Puncak, dan Nduga.
31 Desember 2023Sejak berdiri, ELSHAM mencatat ratusan dugaan pelanggaran HAM di Papua — namun baru satu perkara yang sampai ke pengadilan.
6 Mei 2016Publication
Buku yang menceritakan kisah nyata para perempuan penyintas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang belum mendapatkan keadilan
Sehari jelang peringatan kemerdekaan Indonesia, kita melihat para perempuan Papua masih berjuang atas tanahnya. Riset ‘Burung pun Tak Ada Lagi’ memotret problem yang dialami para perempuan Papua. Burung-burung yang dulunya berseliweran seperti Cenderawasih dan Kasuari, kini mulai menghilang.
Buku yang menceritakan kisah nyata para perempuan penyintas pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang belum mendapatkan keadilan
Sehari jelang peringatan kemerdekaan Indonesia, kita melihat para perempuan Papua masih berjuang atas tanahnya. Riset ‘Burung pun Tak Ada Lagi’ memotret problem yang dialami para perempuan Papua. Burung-burung yang dulunya berseliweran seperti Cenderawasih dan Kasuari, kini mulai menghilang.
Multimedia
About Us
ELSHAM Papua lahir dari keprihatinan mendalam gereja-gereja di Tanah Papua — Keuskupan Jayapura, Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, dan Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) — atas situasi politik dan hukum yang represif. Diawali dari kerja Irian Jaya Working Group for Justice and Peace (1995), sejumlah tokoh pembela HAM Papua bersepakat membentuk lembaga independen yang resmi berdiri pada 5 Mei 1998.
Sejak saat itu, ELSHAM menjadi rujukan utama pemantauan hak asasi manusia di Papua — mendokumentasikan kasus-kasus pelanggaran berat, mengawal proses hukum, dan menyuarakan keadilan bagi korban hingga tingkat internasional.
Independen
Berdiri di luar struktur politik formal.
Berbasis Komunitas
Berakar pada gereja dan masyarakat adat Papua.
Selamat datang di website resmi ELSHAM Papua. Saat ini situs kami masih berada dalam tahap pengembangan/pemeliharaan dan uji coba. Beberapa fitur atau tautan mungkin belum berfungsi sepenuhnya.